0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Muh Biasafil Setya Nugraha, Volunteer Bahasa Isyarat

”Tidak Semua Kata Ada Isyaratnya”

timlo/aditya wijaya

Muh Biasafil Setya Nugraha, penerjemah bahasa isyarat bagi tunarungu di debat Pilkada Klaten

Klaten — Duduk seorang diri dengan sorotan kamera di depannya, Muh Biasafil Setya Nugraha (27) luwes menggerakkan badannya di pojok Gedung Pandanaran Komplek RSPD Klaten, Senin (9/11). Kedua jemari tangannya bergerak lincah yang dibarengi dengan mimik muka serius.

Bergantian bersama rekannya, Mada Ramadhany, keduanya menjadi volunteer bahasa isyarat dalam Deaf Volunteer Organization (DVO) di Solo. Tugasnya sebagai penerjemah bahasa isyarat (sign interpreter) pada debat putaran kedua atau terakhir Pilkada Klaten, Senin (9/11).

“Jujur dari kesiapan panitia banyak yang kurang. Akhirnya  secara tidak langsung menerjemahkannya enggak maksimal. Suara sound system kacau, pendukungnya ramai. Kalau dua debat sebelumnya yang saya handle (Solo dan Boyolali) lebih tertata dan rapi,” ujar Sarjana Pertanian Universitas Negeri Surakarta ini.

Mengenakan kaos hitam berkerah yang merupakan pakaian standar penerjemah bahasa isyarat, Bias panggilan akrabnya, menerjemahkan kalimat, intonasi, mimik atau ekspresi wajah dari masing-masing pasangan calon (paslon) hingga moderator debat bertajuk Kesejahteraan Rakyat itu. Pasalnya, Kamis (12/11)  pukul 17.30 WIB ada siaran tunda melalui stasiun televisi milik pemerintah, TVRI Yogyakarta.

“Seperti halnya menerjemahkan bahasa Indonesia ke bahasa Inggris atau sebaliknya, tidak semua kata yang terucap (bahasa oral) bisa diterjemahkan ke dalam bahasa isyarat. Penekanannya lebih kepada maksud yang diucapkan. Karena tidak semua kata ada isyaratnya,” ujar relawan Deaf Volunteer Organization yang belajar bahasa isyarat sejak 2012.

Namun demikian, dia memberikan acungan jempol kepada KPU. Pasalnya, ada perubahan dibanding tahun sebelumnya dengan memberikan akses bagi difabel. Mendatang, Bias berharap, KPU tidak hanya menyediakan sign interpreter ketika debat, tapi juga saat sosialisasi.

“Bisa dibayangkan, bila penyandang tunarungu hanya dijejali bahasa oral visi misi si calon. Itu informasinya sangat kurang sekali. Padahal mereka juga mempunyai hak untuk menyalurkan suara dalam pemilu,” ucapnya.

 

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

loading...
KEMBALI KE ATAS badge