0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

50 Rumah Terancam Tanah Longsor

merdeka.com

Ilustrasi Tanah longsor

Timlo.net — Memasuki musim penghujan, tanah di Desa Margoyoso, Kecamatan Salaman mengalami retak-retak. Setidaknya 50 rumah kepala keluarga (KK) di desa tersebut terancam bencana tanah longsor tersebar di beberapa titik pelosok desa.

Salah satu pemilik rumah di Dusun Tubansari, Desa Margoyoso, Tejo Sukmono mengaku, rekahan tanah muncul di depan rumahnya saat musim kemarau kemarin. Memasuki musim penghujan, rekahan tanah semakin lebar.

“Sebelum hujan, memang sudah retak. Tapi musim hujan seperti ini lebar rekahan tanah bertambah menjadi 5 cm dan panjang rekahan sekitar 50 meter,” kata Tejo saat ditemui wartawan di rumahnya Selasa (10/11).

Rekahan tanah tersebut memasuki bangunan dapur rumah. Dinding-dindingnya juga mengalami retak.

“Saya bersama keluarga tetap di rumah dan beraktitas seperti biasa di dapur,” jelasnya.

Selain mengancam rumah Tejo, rekahan tanah itu juga mengancam lima rumah di bawahnya. Bahkan rekahan tanah juga menjalar ke bangunan sekolah dasar di dusun tersebut. Namun, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung.

Kepala Desa Margoyoso M Rofiq Santoso menjelaskan, desanya terdiri dari enam dusun. Sebagian besar, dusun-dusun ini berpotensi terjadi bencana tanah longsor. Khusus tanah retak ini ada sekitar 10 titik yang tersebar di enam dusun.

“Seperti di Dusun Tobong, Tubansari, Kalisari ada sekitar 10 titik. Setidaknya ada 50 rumah warga yang tingkat kerawanan tanah longsornya tinggi,” jelasnya.

Selain mengancam rumah penduduk, rekahan tanah juga menyasar dua bangunan sekolah. Pemerintah Desa telah membentuk organisasi pengurangan resiko bencana Forum Tanggap Ing Sasmito untuk antisipasi peristiwa alam ini. Relawan bencana ini terdiri dari berbagai elemen Desa Margoyoso.

“Adanya organisasi pengurangan resiko bencana ini penting karena sebagian besar wilayah desa berpotensi terjadi tanah longsor. Seperti di dusun Kalisari, rumahnya berdiri di pereng-pereng dan rawan longsor,” jelasnya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang, Sujadi mengatakan, penyebab tanah retak di desa tersebut adalah perubahan tata tanah. Area rumah yang sebelumnya undak-undakan kemudian diurug tanah dan tidak dibarengi dengan konstruksi yang memadai.

“Hal ini menjadi pemicu tanah retak,” kata Sujadi saat meninjau lokasi.

[hhw]

Sumber : merdeka.com

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge