0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Mendekati Pilkada, Astana Giribangun Dipenuhi Calon Kepala Daerah

Pak Harto Dimata Para Cabup/Cawalkot

timlo.net/nanang rahadian

Cabup/cawalkot pose bersama di depan Astana Giri Bangun

Karanganyar — Belasan calon kepala daerah melakukan doa bersama dan ziarah ke Astana Giribangun (AGB-Red), Matesih, Sabtu (31/10). Beberapa diantara mereka, mengaku memiliki memori unik dengan mantan Presiden RI ke-2, Soeharto.

‪“Saya sudah yang ketiga kali ini berziarah di AGB. Memang sengaja mencari tempat yang di situ dikuburkan tokoh-tokoh besar. Seperti di gunung Tidar,” kata Calon walikota (cawalkot) Magelang Kolonel Inf Moch Haryanto, Sabtu (31/10).

Menurut Hayanto, terlepas dari berbagai kontroversi, namun sosok HM Soeharto merupakan tokoh besar yang patut diambil keteladanannya.

Cawalkot Balikpapan, Heru Bambang, mengingat sewaktu dirinya menjabat kepala DLLAJR Balikpapan. Kotanya pernah mendapat penghargaan tentang ketertiban lalu lintas. Penghargaan terkait lalu lintas langsung di serahkan sendiri oleh Suharto.

“Beliau berpesan bahwa infrastruktur perhubungan sangat penting bagi suatu daerah,” kata Heru Bambang.

Bambang menambahkan, pesan Suharto tersebut masih tergiang-ngiang di telinganya. Dia berjanji jika kelak nanti terpilih menjadi. Walikota dia akan mempercepat pembangunan infrastruktur yang saat ini masih kalah jauh dari pulau jawa.

“Itu memotivasi saya untuk membuat Balikpapan menjadi lebih baik,” katanya

Sementara itu, Calon Bupati (Cabup) Kabupaten Paser, Kaltim, Bambang Susilo mengatakan, memori yang tersimpan di otaknya tentang Pak Harto adalah kemajuan sektor pertanian hingga kita tidak impor beras bahkan malah bisa ekspor.

“Dulu sewaktu saya SMP, sepertinya enak sekali mencari makan. Bahkan sewaktu di sekolah diajari menanam IR 36. Waktu itu, Indonesia sempat bisa mengekspor beras, tidak seperti sekarang. Pak Harto merupakan sosok sederhana. Orang Kaltim mengenal beliau memajukan bidang pertanian,” jelasnya.

Ketua panitia Doa bersama dan Ziarah Kol Inf Moch Haryanto menegaskan, semua peserta berangkat dari niatan sama, yakni meneladani sosok positif mantan presiden kedua RI. Meski masing-masing maju dari partai politik berlainan dan independen.

“Kami tidak bisa saling mempengaruhi calon pemilih. Toh, wilayahnya berlainan. Awalnya, beberapa dari kami teman semasa sekolah dan kuliah. Nah, kebetulan mencalonkan diri menjadi bupati dan walikota. Sempat telepon-telepon berencana ziarah ke makam pak Harto. Daripada sendiri-sendiri, mendingan dikoordinasi secara bersama-sama,” ujarnya.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge