0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

10 Ribu Buruh Demo Peringati May Day di Semarang

Ilustrasi demo buruh (merdeka.com)

Timlo.net — Hari Buruh sedunia yang diperingati tiap 1 Mei juga akan diperingati oleh ribuan buruh di Semarang. Rencananya, para buruh di kota merah akan menggelar demonstrasi untuk menyuarakan tuntutannya.

“Buruh dari Kota Semarang yang akan turun ke jalan berjumlah tidak kurang dari 10 ribu orang. Mereka akan berorasi di depan kantor Gubernur Jateng, di Jalan Pahlawan Semarang. Insya Allah bersama 10 ribu teman buruh, kita akan turun,” tegas Sekretaris Gerakan Buruh Berjuang, Nanang Setyono, Kamis (30/4).

Menurutnya, ribuan buruh tersebut akan bertemu di titik kumpul sekitar pukul 07.00 WIB. Selanjutnya, mereka akan bergerak menuju kantor Gubernur Jateng. Mereka semuanya berasal dari Semarang. Sementara yang dari luar daerah menggelar demonstrasi di daerahnya masing-masing.

“Aksi akan mulai sekitar pukul 08.00 WIB,” ungkapnya.

Dalam aksinya, Nanang menjelaskan buruh lainnya mengusung sembilan tuntutan. Seperti halnya yang selalu disuarakan buruh, tuntutan pertama mereka adalah menolak upah murah dan penghapusan sistem kontrak serta outsourcing.

Selanjutnya, Nanang meminta agar Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo merevisi Pergub tentang Kebutuhan Hidup Layak (KHL).

“Kami juga akan menyuarakan agar teman-teman (buruh) melawan pemberangusan serikat buru,” tegas Nanang.

Tuntutan lainnya adalah meminta pemerintah menegakkan hukum di bidang ketenagakerjaan, memberikan hak dan perlindungan bagi buruh rumahan, menurunkan harga BBM dan kebutuhan pokok, membubarkan pengadilan hubungan industrial dan terakhir, menolak pembangunan Rusunawa dengan menggunakan dana buruh di BPJS.

Khusus tentang buruh rumahan, Koordinator Yayasan Annisa Swasti Jawa Tengah Rima Astuti meminta Pemprov Jateng untuk membuat aturan yang melindungi mereka. Aturan tentang buruh rumahan menyesuaikan dengan Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. Hal itu dikemukakannya dalam pembentukan Koalisi Civil Society Organization (CSO) Jawa Tengah.

Berdasarkan data yang dimilikinya, di Jateng terdapat lebih dari 5 ribu buruh rumahan. Mereka tersebar di Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kabupaten Sukoharjo, dan Kabupaten Pekalongan.

“Buruh rumahan didominasi perempuan,” ungkapnya.

Ada beberapa sektor bisnis yang sudah mempekerjakan buruh rumahan cukup lama. Misalnya di sektor bisnis garmen pengolahan kulit dan makanan. Hal itu jelas merugikan buruh rumahan lantaran pendapatan mereka tidak sesuai Upah Minimum Kota (UMK).

Upah buruh rumahan terbilang sangat minim. Pada industri garmen contohnya. Buruh rumahan hanya mendapat upah Rp 800 per sepuluh potong pakaian yang dikerjakannya.

Selain upah yang tidak sesuai UMK, pengusaha juga tidak perlu membayar beragam hal selayaknya buruh lainnya. Misalnya tentang jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, dan lain-lain.

“Di sisi lain, sangat menguntungkan perusahaan karena bisa menekan biaya produksi hingga 50 persen. Buruh rumahan juga menyebabkan mereka (buruh) sulit terorganisir sehingga memperlemah gerakan buruh,” tandasnya.

[dan]

Sumber : Merdeka.com

 

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge