0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Putri Mumpuni, Chef Muda Ajarkan 30 Masakan Indonesia di Amerika

Putri Mumpuni mengajar di kelas. (Dok: Timlo.net/ ACMI.org.)

Timlo.net—Putri Rizky Mumpuni, perempuan kelahiran Temanggung, 7 Agustus 1991 ini dikenal masyarakat Indonesia setelah masuk menjadi top 10 finalis dalam acara TOP Chef Indonesia 2013 yang ditayangkan di salah satu stasiun TV swasta. Sekalipun masih berusia 23 tahun, chef muda ini memiliki segudang prestasi yang cukup membanggakan, tahun ini dia pernah pergi ke Republik Ceko untuk memperkenalkan 22 masakan Indonesia. Dan wanita yang pernah bekerja selama 4 tahun sebagai chef di sebuah western restaurant dan hotel berbintang 5 itu sekarang ini mengajar 30 Ikon Kuliner Tradisional Indonesia (30 IKTI) di Stratford University, Amerika.

Dalam sesi wawancara dengan AkuCintaMasakanIndonesia.org (ACMI) yang dipublikasikan pada 28 November, Putri berbagi pengalamannya mengajar di negera Paman Sam itu. Di Stratford University, Putri mengajarkan 30 ikon masakan Indonesia sesuai buku 30 Ikon Kuliner Tradisional Indonesia (30 IKTI).

“Indonesia memiliki lebih dari 17 ribu pulau, dan saya coba mengambil masakan dari 5 kepulauan terbesar yaitu Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan dan Sulawesi. Sebisa mungkin saya memperkenalkan karakteristik rasa dari masing-masing pulau tersebut,” ujar Putri.

Untuk persiapan mengajar, Putri sengaja membawa beberapa bahan masakan yang susah atau tidak bisa didapatkan di Amerika.

“Saya membawa beberapa jenis bumbu langsung dari Indonesia, antara lain kayu secang, kencur, daun salam, asam kandis, dan kluwek. Misi saya adalah membawa rasa autentik Indonesia, maka sebisa mungkin saya harus mendapatkan semua bumbu lengkap yang akan saya butuhkan untuk memasak,” terangnya.

Selama mengajar, Putri mengaku mendapat berbagai pengalaman menarik. Misalnya karena dia tidak begitu fasih berbahasa Inggris, para muridnya pernah mengalami kesulitan untuk mengerti apa yang dia katakan. Dia pun mencoba menggambarkan apa yang dia maksud di papan tulis. Ada juga momen di mana dia mencoba menulis apa yang dia katakan di papan tulis, tapi ternyata grammar dalam tulisan itu salah, sehingga para muridnya justru mengoreksi tulisannya. “Buat saya itu hal yang tidak memalukan, tapi menjadi pembelajaran buat saya juga,” katanya.

Tapi pada akhirnya, para murid Putri mulai beradaptasi dengan cara mengajarnya dan juga mulai memahami gaya dan metode memasak makanan indonesia. Padahal pada awalnya mereka kesulitan untuk membedakan antara jahe, lengkuas, dan kencur.

“Pengalaman ini adalah pengalaman yang mungkin menjadi pencapaian tertinggi saya selama ini. Bayangkan, saya hanya lulusan SMK, bukan guru, tidak mahir berbahasa Inggris, tapi beruntung mendapatkan kesempatan untuk mengajar di sebuah universitas di Amerika,” ujar Putri.

Editor : Ranu Ario

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge