0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Tak Mau Banyak Rugi, PO Kurangi Armada yang Beroperasi

Takut merugi, banyak bus dikandangkan (dok.timlo.net/setyo pujis)

Solo – Kebijakan pemerintah menaikan harga Bahan BakarMinyak (BBM) beberpa waktu yang lalu membuat pelaku usaha angkutan umum kelabakan. Pasalnya kenaikan tarif 10 persen yang ditetapkan pemerintah tidak bisa menutup biayaoperasional yang terus membengkak.

Pengurus Perusahaan Otobus (PO) Mulyo Indah, Suparyoto saat ditemui wartawan di kantornya, mengatakan kondisi yang terjadi sekarang ini sangat tidak mengutungkan bagi pelaku usaha angkutan masal. “Dengan naiknya BBM kemarin berdampak kepada biaya operasional dan perawatan armada. Lantaran untuk saat ini semua sparepart juga ikut naik sekitar 10 hingga 15 persen,” ungkapnya, Jumat (28/11).

Ia menuturkan jika sebenarnya dirinya tidak mempermasalahkan kenaikan BBM namun kebijakan pemerintah dengan memukul rata seperti yang dilakukan saat ini sangat memukul pelaku usaha angkutan umum. “Sebenarnya aksi mogok yang kita lakukan beberapa waktu yang lalu itu bukan karena kita menolak sepenuhnya kenaikan BBM melainkan kita minta untuk angkutan umum diberi subsidi sehingga tidak dipukul rata seperti ini. Tidak dicabut subsidinya saja sudah tidak mencukupi, apalagi di cabut,” jelasnya.

Dirinya mengaku meski saat ini untuk tarif sudah dinaikan sekitar 10 persen namun bisa dikatakan usaha angkutan umum banyak yang rugi karena harus tombok, belum lagi untuk saat ini diperparah dengan kondisi jalan di beberapa daerah seperti di Mangkang dan Bogor sedang diperbaiki. “Kenaikan BBM kemarin ditambah kondisi jalan yang macet seperti yang terjadi saat ini sangat memukul pelaku usaha angkutan umum. Untuk menyiasati agar tidak terlalu banyak rugi yang kita lakukan terpaksa mengurangi jumlah armada yang beroperasi,” pungkasnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge