0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Jateng Terancam Bencana Darurat Kekeringan

Puncak Kemarau, Pemkab Boyolali kewalahan droping air ke daerah krisis air bersih dan kekeringan (Dok. Timlo.net/Nanin)

Timlo.net – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Tengah (Jateng) mengingatkan ancaman bencana darurat air di provinsi setempat. Banyaknya pemberian izin perusahaan membuka lahan luas hingga merusak lingkungan bisa membawa malapetaka kehidupan di masa depan. Menurut Walhi, kerusakan itu sudah di depan mata.

“Pemerintah dan pengusaha selama ini telah berpikiran sesat, yaitu menjadikan segala sumber daya alam sebagai sumber uang. Diwarnai pula keserakahan untuk kepentingan pribadi,” tegas Ketua Program Walhi Jateng, Arief Zayyin dalam siaran persnya ke merdeka.com Jumat (28/11).

Arif mengungkapkan lebih dari itu, sumber air di hulu juga diberikan kepada perusahaan swasta, sehingga negara kehilangan kedaulatan atas sumber air di tanahnya sendiri. Bahkan pemerintah membiarkan atau mendorong rakyat menjual tanahnya kepada investor.

“Ancaman darurat air sudah di depan mata. Sumber air semakin hilang, terancam habis dan yang masih ada malah dikuasai kapitalis. Sungguh mengkhawatirkan,” paparnya.

Arif membeberkan, di musim kemarau kemarin hampir seluruh desa di Jateng mengalami kekeringan. Pemerintah bukannya menyadari adanya kerusakan dan membuat program rehabilitasi hutan, namun malah menampilkan diri seperti malaikat penolong dengan membagikan air dengan mobil tangki.

“Kekeringan terjadi, pemerintah membagikan air dengan mobil tangki. Bukannya merehabilitasi sumber air yang rusak. Seperti Sinterklas yang datang kesiangan,” ujarnya.

Arif mengungkapkan, ketika kekeringan telah melanda, orang terpaksa membeli air untuk melanjutkan hidupnya. Produsen air kemasan pun menangguk untung tiada terkira. Mereka menguasai seluruh sumber air, mengemasnya dan menjualnya kepada rakyat.

“Padahal rakyat adalah pemilik sah atas sumber air tersebut yang semestinya dilindungi negara dan didayagunakan untuk melayani rakyat. Akibatnya, mata air yang harusnya menjadi sumber kesejahteraan rakyat, justru menjadi sumber air mata,” terangnya. [hhw]

 

Sumber : merdeka.com

Editor : Andi Penowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge