0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pemkab Sragen Tepis Mitos Gunung Kemukus

Salah satu tradisi larap kelambu Makam Pangeran Samudro di Gunung Kemukus (Dok. Timlo.net/Agung)

Sragen – Gunung Kemukus di Kecamatan Sumberlawang, Sragen seringkali dipahami untuk mencari pesugihan. Mitos berkembang di masyarakat apabila ingin ngalap berkah atau permohonannya terkabul, peziarah Makam Pangeran Samudro harus melakukan ritual berhubungan intim dengan lawan jenis, bukan suami atau istrinya.

Pandangan negatif ini perlu diluruskan agar para peziarah tak terjebak dalam paradigma dan kepercayaan keliru. Setiap peziarah atau pengunjung menginginkan permohonan terkabul haruslah memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan berdoa dan berusaha di jalan benar.

Dalam rilis disampaikan Bagian Humas Setda Sragen, Selasa (25/11), paradigma negative berkembang di tengah masyarakat itu tidak benar. Berziarah ke Makam Pangeran Samudro atau Gunung Kemukus hanyalah kegiatan ritual untuk mengingat jasa Pangeran Samudro.

Sebagai informasi, Pangeran Samudro adalah putra Prabu Brawijaya V, Raja Majapahit memerintah di masa keruntuhan kerajaan itu sekira 1478 silam. Tatkala Majapahit runtuh karena serangan Kerajaan Demak, Pangeran Samudro tak ikut melarikan diri, justru ikut serta ke Demak.

Oleh Sultan Demak, Pangeran Samudro kemudian diperintahkan belajar Islam kepada Sunan Kalijaga dan Kyai Ageng Gugur. Setelah pembelajarannya tentang Islam selesai, Pangeran Samudro sempat berdakwah di beberapa tempat sebelum akhirnya meninggal di Dukuh Doyong, Kecamatan Miri, Sragen. Ia kemudian dimakamkan di sebuah bukit sebelah Barat Dukuh Doyong. Bukit itulah kini dikenal sebagai Gunung Kemukus.

Sementara guna mengantisipasi penyimpangan ritual di Gunung Kemukus, Dinas Sosial Kabupaten Sragen selama ini telah melakukan razia gabungan bersama Satpol PP dan kepolisian untuk memberantas praktik ritual tidak benar.

Kepala Dinas Sosial Sragen, Wangsit Sukono mengatakan, selain razia, pihaknya juga mengadakan pendekatan kepada para pengunjung supaya memahami mitos dengan benar dan tidak melakukan ritual menyimpang.

“Pembinaan kepada para penjaja seks komesial juga dilakukan, yakni dengan menawarkan solusi beralih pekerjaan dan memberikan bekal keterampilan,” kata Wangsit.

Sementara penanggung jawab Obyek Wisata Gunung Kemukus, Marcelo Suparno menjelaskan, mitos tentang makam Gunung Kemukus memang kerap disalahpahami oleh beberapa pengunjung. Upaya untuk meluruskan pemahaman kepada pengunjung juga kerap dilakukan.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge