0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Mbah Sinem, Tukang Pijat Bayi Berusia 104 Tahun

Mbah Martorejo Sinem (dok.timlo.net/nanang rahadian)

Karanganyar — Nenek yang satu ini benar-benar sudah berusia renta. Usianya sudah menginjak 104 tahun. Nenek tersebut bernama lengkap Martorejo Sinem. Sehari-hari, nenek dengan tempat tanggal lahir di Karanganyar, 17 Januari 1910 itu bekerja sebagai tukang pijat bayi. Di Kemuning dan sekitarnya, Sinem dikenal sebagai dukun bayi dengan spesialis memijat pasien ketedun alias hernia.

Di saat sepi ‘pelanggan’, Sinem membantu anak semata wayangnya, Atmowiyono Ijem (79) mengumpulkan dau cengkih di sekitar Kemuning, Ngargoyoso. Sinem saat ini memiliki seorang cucu bernama Cipto Simin (45). Sinem tinggal di rumahnya yang beralamat di Sumbersari RT 002/RW 001, Kemuning, Ngargoyoso.

Rumah Sinem terlihat apa adanya. Lantai rumah berukuran kurang lebih 5 meter x 9 meter hanya beralaskan tanah. Dinding rumah terbuat dari anyaman bambu. Sedangkan, interior rumah hanya berisi dua tempat tidur. Di dekat tempat tidur, terdapat radio jenis national. Di samping rumah dekat lokasi dapur, terdapat toilet.

Sampeyan sinten? Kulo pun mboten kemutan. Untune yo wis entek,” kata Sinem saat ditemui wartawan di rumahnya di Ngargoyoso, Senin (24/11).

Di kesempatan itu, Sinem bercerita di hadapan wartawan kalau dirinya baru saja jatuh saat beraktivitas pagi di dalam rumahnya. Sinem yang menggunakan bantuan tongkat saat berjalan, terjatuh di dapur rumahnya. “Langsung ngadek piyambak,” singkatnya.

Saat ditemui kuli tinta siang kemarin, Sinem sedang asyik beraktivitas menyortir daun cengkih yang dicari Ijem. Daun cengkih itu, nantinya dijual ke pengepul dengan harga Rp 1.000 per kilogram. Dalam sehari, pendapatan Sinem dan Ijem yang hidup bersama tak sampai Rp5.000.

Dengan keuangan seperti itu, mereka menerapkan pola hidup sederhana. Setiap hari, mereka hanya makan dua kali, minum teh dan mengonsumsi jamu tradisional.

“Orang tua saya makannya tidak banyak. Setiap makan, paling-paling tidak lebih dari satu entong. Tapi, minum teh dan jamu ideran sangat sering,” kata Ijem.

Kepala Desa Kemuning, Widadi Nur Widyoko, mengakui di daerahnya masih banyak ditemukan Ortu berusia lanjut. Total warga yang sudah mencapai usia 100 tahun di atas lima orang.

“Usia yang sudah menginjak seabad seperti Bu Sinem ini sudah sangat langka ditemukan. Kami dari Pemerintah Desa selalu mengamati para sesepuh dengan kerjasama ketua Rukun Tetangga (RT). Seperti Bu Sinem ini, Pemdes sudah mengupayakan adanya bantuan beras miskin (Raskin), bantuan Rumah Layak Tak Huni (RTLH) dan bantuan lainnya,” katanya.

Terkait proses administrasi kependudukan, lanjut Widadi, pihak Pemdes mengeluarkan kartu identitas diri yang berlaku seumur hidup.

“Setiap warga yang sudah berusia di atas 65 tahun, identitas diri, seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP)-nya berlaku seumur hidup,” katanya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge