0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Harga Cabai Melejit, Petani Cabai Menjerit

Petani cabai (Dok.Timlo.net/Indratno Eprilianto)

Harga Cabai Melejit,Petani Cabai Menjerit.

Wonogiri —┬áHarga kebutuhan pokok (Sembako) di sejumlah pasar di Wonogiri dalam sepekan ini mulai merangkak naik. Ditambah lagi lantaran dipicu kenaikan harga BBM. Salah satunya adalah harga cabai yang kini mulai melejit.

Tapi sangat ironis,kenaikan harga cabai di pasaran tersebut ternyata tidak dinikmati para petani cabai. Malahan tengkulaklah yang bergembira.

Dalam kurun waktu sepekan ini harga cabai rawit di pasar-pasar naik berkisar 50 persen. Harga cabai rawit sudah mencapai Rp 40 ribu/kg, cabai rawit merah Rp 60 ribu/kg.

Tapi, ternyata kenaikan harga cabai di pasaran sama sekali tidak dapat dinikmati petani. Bayangkan saja, harga cabai rawit dari petani yang dibeli para tengkulak hanya sekitar Rp 29 ribu/kg. sedang cabai rawit merah Rp 35 ribu/kg.

Seperti yang dituturkan Umiyatun, salah seorang petani cabai asal Desa Tubokarto. Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri. Diakui, tanaman cabai miliknya sudah hampir dua pekan panen, dan begitu musim hujan tiba sebagian produksi cabai mulai menurun.

“Saat ini tanaman cabai sudah hampir mati, lantaran dipengaruhi curah hujan yang mulai tinggi,” ungkapnya, Kamis (20/11).

Dikatakan, harga jual cabai yang dibeli tengkulak saat ini lumayan laku ketimbang dua bulan yang lalu. Harga jual cabai rawit pada tengkulak Rp 29 ribu/kg. dan rawit merah Rp 35ribu/kg.

“Harga ini termasuk masih lumayan daripada dua bulan lalu harga jualnya yang hanya pada kisaran Rp 2000/kg. Bahkan sampai tidak saya jual dan hanya saya keringkan saja, padahal waktu itu berbarengan dengan panen raya,” katanya.

Hal senada juga dikatakan warga Tubokarto, Sariyati. Petani cabai ini juga mengeluhkan harga jual yang sangat rendah itu, padahal harga cabai di pasaran tembus Rp 60 ribu/kg nya.

“Kami ini petani cabai kalau dirasakan seperti dimarginalkan, jadi walau di pasaran harganya naik tapi kami tidak pernah merasakan kenaikan harga itu ,jadi malah para tengkulak atau agen-agen yang merasakannya. Misal dihitung-hitung dengan biaya operasionalnya, kami untungnya sangat minim, tapi mau bagaimana lagi, Mas,”imbuhnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge