0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pengamat Bidang Energi Pertanyakan Rencana Kenaikan Harga BBM

Depo Pertamina (dok.merdeka.com)

Timlo.net – Pemerintah diminta menjelaskan alasan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi. Sebab, harga minyak dunia cenderung turun beberapa waktu belakangan.

Direktur Energi Watch Ferdinan Hutahaen menilai, pemerintah tidak pernah transparan dan membuka hitung-hitungan harga minyak yang sebenarnya kepada masyarakat. Ferdinan pun mendesak pemerintah untuk membeberkan kepada publik terkait harga keekonomisan yang sesungguhnya dari premium dan solar sebelum menetapkan kenaikan harga BBM bersubsidi tersebut.

“Kami meminta pemerintah jujur dulu ke publik, negara ini jangan berbohong terus. Kalau mau jujur sampaikan berapa sih sebenarnya harga premium per liter,” kata Ferdinan, Sabtu (15/11).

Menurut Ferdinan, selama ini belum ada yang berani mengungkap kepada publik harga keekonomisan yang sebenarnya dari BBM bersubsidi. Akibatnya, publik tidak memahami kebijakan pemerintah yang akan menaikkan harga BBM subsidi.

“Tolong jujur dulu biaya produksi ini berapa sih? Baru kita ketahui harga sebenarnya (BBM subsidi) berapa. Ini yang harus dilakukan supaya rakyat memahami (kenaikan harga BBM),” tegasnya.

Ferdinan mengatakan untuk menaikkan harga BBM ini, rakyat harus diberi informasi sejelas mungkin agar bisa memahami posisi pemerintah yang sebenarnya. Hal itu agar wacana kenaikan BBM ini tidak selalu menjadi polemik.

“Karena BBM ini menjadi hajat hidup rakyat,” lanjutnya.

Selain itu, Ferdinan mengaku kaget dengan rencana kenaikan harga BBM ini. Sebab, dalam sejarah kenaikan BBM selalu didasari atas kenaikan harga minyak dunia. Namun, pada kenyataannya saat ini harga minyak dunia sedang turun.

“Kalau harga ini naik berarti bayangan saya meleset. Karena berdasarkan statistik sejak harga ini (BBM) naik, selama ini belum pernah naik harga BBM disaat minyak Bumi turun,” tuturnya.

Seperti diketahui, saat ini harga minyak dunia turun menjadi USD 79 per barel dari harga sebelum USD 100. [eko]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge