0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

AJI Desak Kapolri Tuntaskan Kekerasan Wartawan di Makassar

Aksi tolak kekerasan terhadap wartawan (dok.merdeka.com)

Timlo.net – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mengecam aksi tindak kekerasan kepolisian terhadap wartawan di Makassar. Ketua AJI, Eko Maryadi, mengatakan aksi brutal dilakukan polisi merupakan pelanggaran berat UU No40 Tahun 1999 tentang Pers.

“Akibat aksi brutal yang melanggar hukum itu, jurnalis tidak bisa melakukan kerja jurnalistik,” kata Eko dalam keterangan diterima Merdeka.com, Jumat (14/11).

Menurut dia, polisi justru sengaja menganiaya jurnalis dengan berupaya merusak alat-alat kerja peliputan. Bahkan, permintaan maaf Kapolri Jenderal Sutarman tidaklah cukup dan harus diusut tuntas.

“Saya menduga, mereka tidak menginginkan tindakan yang dilakukannya di Universitas Negeri Makassar diabadikan. Ini sekaligus menjadi contoh bagi masyarakat luas untuk menghormati kerja jurnalis dan melakukan mekanisme yang diatur UU Pers, bila memang ada sengketa atau keberatan dengan pemberitaan,” katanya.

Sementara itu, Koordinator Divisi Advokasi AJI Indonesia, Iman D Nugroho menjelaskan, penyerangan jurnalis di Makassar ini memperkuat dugaan tidak seriusnya polisi menghormati kerja jurnalis.

“Dalam tiga tahun ini, polisi menjadi salah satu pihak yang juga kerap melakukan kekerasan pada jurnalis dan itu terus berulang,” kata Iman.

Selama tiga tahun ini, menurut Iman, setidaknya terjadi 140 kasus kekerasan terhadap dan tidak semuanya diusut secara tuntas. Bahkan delapan kasus kematian jurnalis selama ini masih belum dituntaskan.

Atas kejadian itu, lanjut dia, AJI menuntut polisi segera melakukan penangkapan pelaku terlibat dalam penyerangan dan membawa kasus itu ke pengadilan.

“Kami juga mendesak Kapolri mencopot Kapolda Sulsel dan Kapolrestabes Makassar,” kata Iman.

Seperti diketahui, kekerasan pada jurnalis itu terjadi ketika polisi menyerbu masuk ke dalam kampus dan menyerang mahasiswa. Saat itu, polisi juga merusak banyak sepeda motor mahasiswa. Jurnalis kala itu tengah mengabadikan tindakan represif aparat justru menjadi sasaran selanjutnya oleh polisi.

Hingga Kamis malam, ada tujuh jurnalis menjadi korban kekerasan. Satu di antaranya, Waldy, Metro TV, mengalami luka robek dan pendarahan di bagian kepala kiri depan. Ia dilarikan ke rumah sakit untuk penanganan medis lebih lanjut. [did]

 

Sumber : merdeka.com

Editor : Andi Penowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge