0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kerugian Mencapai Miliaran Rupiah

Duguyur Hujan, 30 Ton Ikan WGM Mati Mendadak

Seorang petani ikan WGM tengah memasukkan bangkai ikan dalam karung untuk dimusnahkan (dok.timlo.net/tarmuji)

Wonogiri — Hujan empat hari di kawasan Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri membawa petaka bagi para petani ikan keramba apung. Betapa tidak, sekitar 30 ton ikan di WGM mati secara mendadak.

Kematian ikan ini diduga kuat akibat pasokan oksigen dalam kandungan air tersebut belum memadai, dan juga bercampurnya air dengan pasir dan zat asam. Akibatnya, petani mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah.

Salah satu petani ikan keramba apung d perairan WGM, Setu Andrianto saat dijumpai Timlo.net, Kamis (13/11) mengatakan, irinya merasa khawatir kematian ikan tersebut berlanjut hingga beberapa hari ke depan. Dia juga meyakini, hujan yang akan turun beberapa hari ke depan masih akan membawa lumpur dan pasir yang mengandung zat asam. Selain itu pula kondisi muka air WGM juga belum maksimal.

“Kami para petani disini masih khawatir jikalau kondisi ini terus terjadi ,kemungkinan jumlah ikan nila dan patin terus akan bertambah. Sebab kondisi air WGM sendiri masih susut luar biasa, “ungkap Setu.

Diakui, kondisi semacam ini memanglah hal biasa di saat pergantian musim dari musim kemarau memasuki musim penghujan setiap tahunnya.

“Kematian ikan seperti ini memang tidak bisa dibendung, setiap pergantian musim pancaroba. Akan tetapi petani tidak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan ikan-ikan itu,” katanya sembari menambahkan, demi menjaga kadar air lebih baik petani memilih tidak memberikan asupan makanan.

Dikatakan, selama empat hari terakhir ini total ikan yang mati hampir mencapai 10 ton terdiri dari ikan nila dan patin.Sementara,jumlah petani ikan keramba apung di WGM berjumlah sekitar 150 orang dengan skala besar.

“Diperkirakan, selama empat hari ini total kematian ikan mencapai 10 ton,” katanya.

Sementara itu,menurut Slamet salah seorang mitra usaha PT Aqua Farm menyebutkan, kematian ikan milik PT Aqua Farm selama datangnya musim hujan ini mencapai 20 ton.  Perusahaan pembudidaya ikan ini pun merugi hingga puluhan juta rupiah dan bahkan sampai miliaran rupiah setiap pergantian musim. Sedang, harga perkilonya ikan-ikan itu mencapai Rp 18,500 perkilonya.

“Kalau di rata-rata selama hujan perdana ini, kematian ikan milik petani mencapai 10 ton, sedang untuk Aqua Farm sendiri mencapai 20 ton,” katanya.

Ditambahkan, selama ini petani maupun pihak Aqua Farm sendiri belum menemukan alternatif yang tepat untuk mengantisipasi kematian ikan disaat musim pancaroba.

“Yang jelas,budidaya ikan keramba apung WGM baru bisa normal kembali setelah elevasi air WGM pada kondisi normal,”pungkasnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge