0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Dolar Menguat, Maskapai Kelimpungan

Pesawat Garuda Indonesia (Dok. Timlo.net/Andi Penowo)

Solo – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar dan harga avtur masih belum stabil berdampak pada maskapai penerbangan. Pasalnya, beban operasional dan perawatan ikut meningkat.

Sales and Marketing Manager Garuda Indonesia Brand Office Solo, Endi Latief, mengatakan melemahnya nilai tukar rupiah ditambah harga avtur masih fluktuatif memaksa pihak Garuda Indonesia menaikkan harga tiket di kisaran lima persen hingga sepuluh persen dari harga sebelumnya.

“Naiknya harga tiket lebih kepada bentuk penyesuaian harga karena kami sudah lama tidak menaikkan harga. Sementara kebutuhan meningkat,” ungkapnya, saat dihubungi wartawan, Rabu (12/11).

Kendati harga tiket naik, namun dirinya memastikan tak berdampak serius terhadap penumpang. Mengingat segmen pasar Garuda Indonesia sendiri untuk kelas menengah ke atas.

“Jika untuk menengah ke atas, rata-rata penghasilan mereka di atas Rp 15 juta, sehingga jika harga naik sepuluh persen tidak akan pengaruh. Namun demikian untuk yang segmen bawah akan terkena dampaknya dan biasanya akan pindah ke moda transportasi lain,” ujar Endi Latief.

Sementara itu, District Manager Sriwijaya Air, Taufik Sabar dalam kesempatan terpisah mengungkapkan, kondisi penerbangan saat ini memiliki tantangan besar. Hal itu diakibatkan adanya pengaruh kurs dolar semakin tinggi, sehingga membebani operasional maskapai penerbangan.

“Kondisinya cukup berat, mengingat beban operasional dan maintenance pesawat dibayar dengan menggunakan kurs dolar, sementara harga tiket murah. Disisi lain kami juga dituntut untuk memaksimalkan kenyamanan,” tandasnya.

Editor : Andi Penowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge