0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Tak Layak Huni, Perumahan GSP Disorot Dewan

Perumahan GLA, di Jeruk Sawit, Gondangrejo, Karanganyar (dok.timlo.net/nanang rahadian)

Karanganyar – Kondisi Perumahan Griya Sari Permai (GSP) yang berada di Desa Sukosari, Kecamatan Jumantono, Karanganyar yang tidak layak huni bahkan tak laku, disorot Komisi I DPRD Karanganyar. Pasalnya, perumahan tipe 21 yang kabarnya mendapat subsidi dari pemerintah pusat itu kondisinya memprihatinkan. Dari sekitar 300 rumah, hanya 27 rumah berpenghuni.

Ketua Komisi I DPRD Karanganyar Bagus Selo mengatakan, pihaknya akan memanggil pihak terkait guna mengecek izin mendirikan bangunan (IMB), site plan dan berbagai hal seputar pendirian perumahan GSP. Selain itu, Komisi I juga akan memanggil PT Usaha Bersama selaku pengembang guna dimintai keterangan. Pasalnya, fasilitas umum (Fasum) dan fasilitas sosial (Fasos) yang harusnya disediakan ternyata tidak ada.

”Yang ada di perumahan itu hanya masjid saja,” kata Bagus Selo, Rabu (12/11).

Selain itu, kondisi bangunan juga tidak terurus dan sampai sekarang juga tidak diserahkan kepada pemerintah. ”Mungkin di Karanganyar pengembang perumahan itu banyak sekali yang tidak menyerahkan kepada pemerintah daerah terkait Fasum dan Fasos,” ungkap Bagus.

Sebab banyak indikasi, lanjutnya, pengembang bisa menjual kembali yang sebenarnya bukan haknya. Sesuai ketentuan, fasum dan fasos setelah selesai dalam jangka waktu satu tahun harus diserahkan kepada pemerintah daerah. Namun para pengembang banyak yag tidak menyerahkannya. Dirinya meminta Pemkab Karanganyar bertindak tegas terhadap para pengembang perumahan yang tidak membangun fasum dan fasos.

”Jika tidak ada fasum dan fasos, maka yang dirugikan adalah masyarakat yang menghuni di lokasi itu,” tandasnya.

Pemanggilan nantinya juga akan menanyakan kepada pengembang berapa dana yang dipakai untuk membangun perumahan tersebut. Kemudian dijual kepada masyarakat dengan harga berapa hingga nilai subsidinya. Mengenai kondisi bangunan, politisi PDIP ini menilai keadaannya tidak layak dihuni. Meski masuk kategori rumah sangat sederhana (RSS), namun sepanjang pengetahuannya semestinya tidak separah itu.

”Semuanya hancur dan rusak semuanya,” ungkapnya. Dari sekitar 300 unit rumah, yang ditempati hanya 27 rumah. Sedangkan sisanya banyak yang tidak laku.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge