0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Temon Holic, Pasukan Joged Breakdance Koplo

Ratusan pasukan joged mengenakan kaos merah, biru dan hitam bertuliskan "Temon Holic-Breakdance Koplo" bergoyang secara massal dalam memeringati ulang tahun (Ultah) pertama komunitas Temon Holic di GOR Gelarsena Klaten, Minggu (9/11) (Dok. Timlo.net/Aditya)

Klaten – Ratusan pasukan joged mengenakan kaos merah, biru dan hitam bertuliskan “Temon Holic-Breakdance Koplo” bergoyang secara massal dalam memeringati ulang tahun (Ultah) pertama komunitas Temon Holic di GOR Gelarsena Klaten, Minggu (9/11).

Mochtar Setya Wibowo (20), warga Kadilanggon, Wedi, Klaten, mengatakan Temon Holic merupakan sekumpulan remaja doyan berjoged setiap kali ada pementasan musik dangdut. Komunitas ini dalam berjoged memiliki ciri bergoyang secara berkelompok, namun menggunakan koreografi spontan layaknya flashmob.

“Awalnya berjoged sendirian dengan koreografi tarian Breakdance Koplo, tapi lama-kelamaan banyak orang tertarik dan mengikuti gerakan saya. Sehingga kalau ada pentas dangdut, si pembawa acara selalu menyebut nama Temon Holic,” ujar Mochtar akrab disapa Temon kepada Timlo.net, Minggu (9/11).

Dengan berjalannya waktu, pasukan joged Temon Holic tak hanya didominasi warga Klaten saja, namun juga dari Masaran, Sragen, Boyolali, Kartasura dan Wonogiri. Lewat kecintaan pada musik dangdut, pasukan joged berjargon ‘No Anarcy dan No Alcohol’ ini dipersatukan melalui kekompakan aksi koreografinya. Mereka pun tak lupa mengunggah aksi breakdance koplo ke youtube.

“Kami ingin meninggalkan kesan bahwa menonton dangdut itu menyenangkan dan tidak rusuh. Bahkan kami juga punya aturan main untuk menolak alkohol dan anti kekerasan. Sehingga kalau ada penonton yang ngisruh, mending kami diam lalu bubar jalan meninggalkan pertunjukan,” kata Temon, mahasiswa semester III Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) ini.

Hal itu diamini pula Kiki Fauzia, Korlap Temon Holic asal Jonggrangan, Karanganom, Klaten Utara. Ia merasa senang dengan kekompakan untuk terus menularkan hal postif dalam menonton dangdut.

“Saya yakin temen-teman bisa ikut membesarkan Temon Holic dengan terus bersikap postif dalam setiap pertunjukan dangdut,” ucap Kiki, juga berprofesi sebagai penyanyi dangdut ini.

Sementara Wakapolsek Ketandan Ipda Taryana, ikut mengamankan jalannya ultah mengatakan, komunitas Temon Holic memang unik. Pihaknya tidak mendapati para anggota komunitas memenuhi GOR Gelarsena menenggak miras.

Editor : Andi Penowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge