0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Belanja Makin Praktis dengan Uang Elektronik

COBA ATM-Kepala BCA Kantor Cabang Utama Solo Slamet Riyadi, Hartana Satedja mencoba layanan ATM di electronic banking center (EBC) Solo Paragon Lifestyle Mall ()

Solo – Aktivitas belanja kini makin mudah dan praktis dengan adanya uang elektronik. Seiring kebangkitan industri digital, pola jual-beli konvensional dengan uang kartal mulai ditinggalkan sebagian kalangan. Mereka beralih ke sistem e-money.

Tak ayal, masyarakat pun makin dimanjakan dengan pola transaksi model demikian. Saat berbelanja ataupun melakukan transaksi pembayaran, kini konsumen tak perlu lagi membawa segepok uang, namun cukup dengan kartu ataupun via telepon seluler (Ponsel). Cukup gampang bukan?

Bank Indonesia (BI) sendiri mencatat transaksi elektronik perhari mencapai nilai miliaran rupiah. Menurut Manajer Divisi Perizinan dan Informasi Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Prabu Dewanto, rata-rata transaksi elektronik di Indonesia mencapai Rp 5 miliar hingga Rp 7 miliar perhari.

Dengan angka itu, bisa dikatakan sistem e-money memang cukup potensial berkembang di Tanah Air. Hasil survei pada 2013 mencatat ada 250 juta SIM card disematkan dalam Ponsel. Ini tentunya menjadi pasar prospektif bagi perkembangan uang elektronik ke depan.

Namun perlu diketahui, saldo uang elektronik baik di kartu ataupun Ponsel tak dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Selain itu juga tak ada bunga diberikan bagi konsumen.

“Karakteristik dia (e-money) disetor di awal. Ini bukan simpanan, sehingga tidak dijamin LPS dan tak ada bunga,” kata Prabu Dewanto, saat menjadi pembicara dalam acara Kumpul Bareng Wartawan se-Jateng dan DIY 2014,” akhir pekan ini.

Uang elektronik hanya sebatas sarana pembayaran, nominal top up-nyapun dibatasi demi keamanan. Nah, dalam rangka mengurangi sistem pembayaran tunai, pihak bank sentral sendiri berharap semakin banyak masyarakat memanfaatkan transaksi elektronik. Apalagi sistem e-money ini sengaja dikembangkan untuk transaksi retail.

BI belakangan memang gencar menyosialisasikan sistem e-money sejak pencanangan gerakan transaksi nontunai beberapa waktu lalu. Saat ini, diakui Prabu Dewanto tantangan utama implementasi sistem e-money di masyarakat adalah soal perilaku. Masih banyak orang tak paham apa itu transaksi elektronik, sehingga lebih memilih pembayaran tunai.

Sementara secara infrastruktur, keberadaan berbagai sarana transaksi seperti automatic teller machine (ATM) ataupun mesin electronic data capture (EDC) bisa dibilang sudah cukup mendukung. Saat ini ada sekira 78 ribu unit ATM dan 760 ribu mesin EDC di Indonesia.

Prabu Dewanto mengatakan, jumlah kedua mesin transaksi itu dipastikan masih bertambah. Hal ini cukup beralasan, mengingat tiap kali terjadi perkembangan transaksi BI menginginkan adanya perkembangan infrastruktur.

“Kami minta tiap perkembangan transaksi ada perkembangan infrastruktur, di antaranya dengan meningkatkan jumlah ATM dan EDC di masyarakat,” ujarnya.

Saat ini sudah banyak merchant melayani sistem pembayaran secara elektronik. Termasuk angkutan umum dan instansi-instansi layanan publik seperti PLN dan PDAM pun turut mengakomodasi kebutuhan konsumen dengan e-money.

Editor : Andi Penowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge