0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pohon Berdaun Uang Warnai Tradisi Bersih Desa Dlimas

(Dok. Timlo.net/Aditya)

Klaten – Beragam cara dilakukan warga guna memeriahkan tradisi upacara Bersih Desa di pelataran bangsal Tanjungsari, Desa Dlimas, Ceper, Klaten, Jumat (7/11). Salah satunya dilakukan dengan membuat pohon berdaun uang.

Dengan wadah baskom berisi buah pisang dan semangka, Marjinem (73) menghiasi kedua buah itu dengan ditancapi ranting-ranting beraneka warna, sekaligus ditempel uang pecahan Rp 1000 dan Rp 2000 sebagai daunnya.

“Biar beda dengan sesaji warga lainnya. Jumlahnya Rp 50 ribu. Pecahan seribuan artinya rezeki kita beribu-ribu, sedangkan Rp 2000, artinya rezeki kita biar dilipatgandakan,” terang warga asli Dlimas ini, di mana sehari-harinya berjualan bakso di Jakarta.

Marjinem mengatakan, sejak dari kecil ia mengikuti tradisi Bersih Desa Dlimas. Selain sebagai sarana silaturahmi antarwarga, kegiatan ini juga merupakan bagian untuk melestarikan tradisi leluhur. Pasalnya tradisi ini bermula ketika danyang atau arwah penunggu Desa Dlimas bernama Nyi Tanjungsari dan Nyi Payung Gilap meminta warga memberi sesaji agar terbebas dari pagebluk atau penyakit.

‚ÄúSeperti yang sudah dilakukan simbah-simbah saya, dengan membawa berbagai sesaji atau uba rampe ini kita dapat diberikan keselamatan dalam mengarungi hidup serta diberi kemudan rezeki dari Tuhan. Setiap tahunnya bersama keluarga, saya selalu meluangkan waktu untuk pulang pas acara,” kata dia kepada Timlo.net, di sela acara.

Menurutnya, intisari dari sesaji ini ialah nasi tumpeng dan ingkung ayam dikelilingi berbagai macam makanan dan masakan tradisional. Sedangkan pohon berdaun uang hanyalah penghias saja.

“Tradisi ini diikuti semua agama dan tidak membeda-bedakan. Intisarinya, meski beragam warnanya, namun semua dipersatukan untuk tujuan keselamatan kepada Tuhan,” pungkas Marjinem, mengaku uba rampenya kalau dinominalkan sekira Rp 2,5 juta.

Editor : Andi Penowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge