0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Perokok Beresiko Terkena Sakit Punggung Tiga Kali Lebih Besar

Sakit punggung. (Dok: Timlo.net/ Corbis.)

Timlo.net—Sebuah penelitian baru menemukan bahwa para perokok memiliki resiko terkena sakit punggung parah tiga kali lebih besar dibandingkan mereka yang tidak merokok. Dan berhenti merokok bisa mengurangi resiko tersebut, kata para peneliti.

Penelitian ini adalah yang pertama yang menemukan bukti adanya hubungan antara merokok dan sakit kronis. Rasa sakit karena merokok bisa berlangsung hingga 12 minggu. Selain itu, rokok juga mempengaruhi bagian otak yang mengatur hubungan antara kecanduan dan penghargaan.

Pemimpin penelitian Bogdan Petre, dari Northwestern University Feinberg School of Medicine berkata: “Merokok mempengaruhi otak. Kami menemukan bahwa kebiasaan ini mempengaruhi cara otak merespon sakit punggung dan kelihatannya membuat orang memiliki daya tahan lebih lemah dalam menghadapi rasa sakit.

Hasil penelitian ini berasal pengolahan data terhadap 160 orang dewasa yang baru menderita sakit punggung. Selama lima kesempatan berbeda dalam kurun waktu setahun, mereka melalui scan otak MRI dan diminta untuk menilai level rasa sakit punggung mereka dan mengisi kuesioner yang berisi pertanyaan tentang kebiasaan merokok dan masalah kesehatan lainnya.

Selain itu ada juga 35 orang peserta lainnya yang sehat dan 32 peserta dengan sakit punggung kronis. Melihat hasil scan MRI, para peneliti mengamati aktivitas di antara dua wilayah otak: nucleus accumben dan medial prefrontal cortex, Nac-mPFC yang terlibat dalam perilaku adiktif dan motivasi belajar.

Dua wilayah otak itu saling berkomunikasi dan para peneliti menemukan bahwa kekuatan hubungan di antara keduanya membantu menentukan bila seseorang akan menderita sakit kronis. Hubungan di antara keduanya sangat kuat dan aktif pada otak para perokok.

“Tapi kami melihat sebuah penurunan drastis pada aktivitas sirkuit pada para perokok yang karena keinginan mereka sendiri, berhenti merokok selama penelitian, jadi saat mereka berhenti merokok, kondisi mereka yang rawan terkena sakit kronis berkurang,” tambah Petre.

Penemuan ini mengungkap bahwa ada kemungkinan yang lebih umum antara kecanduan dan rasa sakit dan tidak hanya terbatas pada kecanduan rokok. Pengobatan seperti penggunaan obat anti radang, memang menolong para penderita melawan rasa sakit tapi tidak mengubah aktivitas otak.

Penelitian ini diterbitkan di jurnal Human Brain Mapping.

Sumber: Daily Mail.

Editor : Ranu Ario Kurniawan

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge