0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Sensasi Tidur di Kasur Pasir Ala Madura

kasur pasir ala warga Madura (dok.merdeka.com)

Timlo.net – Warga di kawasan Sumenep, Madura punya kebiasaan unik. Mereka biasa tidur beralaskan pasir dalam kesehariannya.

Kamar yang sudah berlantai keramik justru sengaja dipenuhi pasir sebagai pengganti kasur untuk alas tidur. Meski sering disebut dengan istilah kasur pasir, jangan pernah membayangkan tempat tidur ini akan menyerupai sebuah spring bed dengan pasir terbungkus di dalamnya.

Pasir-pasir itu disebar dengan ketebalan yang tidak merata, sampai sekitar 30 cm di lantai kamar. Saat semua anggota keluarga beristirahat di kasur pasir, kulit dan pakaian mereka sudah pasti akan berlumuran pasir.

Ada tiga desa yang menjalankan kebiasaan ini, yang meliputi Desa Legung Timur, Legung Barat dan Dapenda, Kecamatan Batang-Batang. Ketiga desa ini telah menjalani kebiasaan itu secara turun-temurun.

Setiap rumah umumnya memiliki satu kamar atau lebih dengan fasilitas kasur pasir, yang menurut mereka dapat menyejukkan sekaligus bisa menghangatkan.

“Saat musim hujan bisa menyejukkan, saat musim kemarau atau panas habis olahraga bisa menyejukkan, enak sekali,” kata Edi Masyanto (28) warga Legung Barat, kemarin.

Kasur pasir tidak hanya ditemukan di dalam kamar. Di lingkungan keluarga yang lebih besar, yang terdiri dari beberapa kepala keluarga yang masih kerabat, mereka akan menjadikan halaman sebagai kasur pasir untuk fasilitas bersama.

Semua anggota keluarga biasanya bercengkerama sambil menikmati makan dan minum di atas kasur itu.

Karena sudah biasa tidur di atas pasir, warga tak pernah merasa khawatir jika pasir itu akan masuk ke makanan, mata, atau lubang telinga. Mereka mengklaim bahwa jenis pasir yang mereka gunakan berbeda.

Selain itu, mereka juga rajin mengganti pasir, khususnya saat pasir dirasa sudah terlalu kotor atau terkena air kencing bayi yang mengompol. Kalaupun menempel di tubuh, untuk menghilangkannya cukup dikibas-kibas dengan tangan.

Sementara, Syamsul Arifin (32), warga Legung Barat, menuturkan bahwa pasir yang digunakan sebagai kasur bukan jenis pasir laut yang ada di bibir pantai. Jenis pasirnya lebih halus dan agak berat.

Pasir-pasir itu dibeli dari warga yang mengambil dari perkampungan yang agak dalam – yang jauh dari bibir pantai.

“Pasir diambil dari dalam tanah, jadi bukan pasir permukaan seperti yang di pantai. Dua rengking (wadah berbentuk kotak-red) biasanya dibeli Rp 5000, sudah diayak bersih,” katanya.

Syamsul dan semua warga tidak mengetahui sejak kapan kebiasaan tidak lazim itu mulai dilakukan oleh para leluhur mereka. Tetapi, mereka merasa sudah menyatu dengan tradisi itu.

Saat bepergian jauh, tidak jarang mereka juga membawa pasir untuk sekadar sebagai syarat mengikuti kebiasaan leluhur.

“Katanya kalau tidur tidak nyentuh tidak bisa tidur. Ada yang pergi ke Sukolilo untuk menjemput jamaah haji, membawa satu kresek untuk alas kaki saja. Nggak bisa tidur katanya,” ungkapnya. [des]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge