0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Sebelum Mati, Kerbau Bule “Pamitan” dengan Sang Pawang

Prosesi pemakaman kerbau bule Kyai Bagong (dok.timlo.net/ist)

Solo — Ada cerita unik di balik tewasnya kerbau bule keturunan Kyai Slamet milik Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada Selasa (4/11) malam. Kerbau bernama Kyai Bagong tersebut sempat berpamitan dengan srati (pawang) yang juga merupakan abdi dalem Keraton yakni Sukir. Meski tidak secara lisan, namun sang pawang sudah sempat merasakan bahwa Kyai Bagong sebentar lagi akan tiada.

“Meski tidak secara lisan, namun sang srati sudah dapat merasakan bahwa sebentar lagi Kyai Bagong akan tiada. Hal itu ditandai dengan tingkah laku kerbau keturunan Kyai Slamet tersebut yang sering murung dan pendiam. Biasanya, saat berada di kandang kerbau ini (Kyai Bagong) sering merespon apapun yang dilakukan oleh Sukir (pawang),” kata Wakil Pengageng Museum dan Pariwisata, Kanjeng Raden Mas Haryo (KRMH) Satriyo Hadinagoro saat dihubungi wartawan, Rabu (5/11) siang.

Disinggung terkait pertanda apakah yang akan terjadi jika kerbau yang dikeramatkan pada malam 1 Suro tersebut meninggal, Kanjeng Satriyo (sapaan akrabnya) mengaku supaya masyarakat jangan mengaitkan dengan hal-hal berbau mistis. Dirinya menghimbau agar masyarakat dapat mengambil hikmah dari peristiwa tersebut.

“Jangan gathuk-gathuk’e (jangan mengaitkan) dengan hal-hal mistis. Kita ambil hikmahnya saja,” terang Kanjeng Satriyo.

Sementara itu, berdasarkan keterangan dari masyarakat yang dihimpun oleh Timlo.net, kematian Kyai Bagong bin Kyai Slamet bertepatan dengan satu hari setelah usainya tanggal 10 Muharram. Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, tanggal 10 Muharram dianggap keramat. Setelah selang sehari dari tanggal tersebut maka dianggap sebagai hari yang baik.

“Kalau tradisi masyarakat Jawa, tanggal 10 Muharram ini kan dikramatkan. Jadi, jika kematian Kyai Bagong bin Kyai Slamet ini meninggal sehari sesudahnya maka itu merupakan hari yang baik. Dan kami mempercayai hal tersebut,” terang salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya. stimewa,

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge