0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Alih Fungsi Lahan di Kali Woro Mengkhawatirkan

TRC BP Klaten saat berada di cekdam Borangan, Manisrenggo (Dok.. Timlo.net/Aditya)

Klaten – “Elevasi 248 mdpl. Koordinat lintang selatan 0446906, lintang utara 9149391,” ucap Fajar, saat membaca alat Global Positioning System (GPS) melingkar di lehernya kepada rekannya, Agus dengan sigap mencatatnya.

Begitulah salah satu tugas dilakukan Agus dan Fajar bersama delapan anggota lainnya, tergabung dalam tim survei Tim Reaksi Cepat-Penanggulangan Bencana (TRC-BP) Klaten saat menyusuri sungai di Cekdam Desa Borangan, Kecamatan Manisrenggo, Klaten, Senin (3/11).

Dengan berbekal GPS, Handy Talkie (HT) dan sebotol air putih, kesepuluh orang itu dibagi menjadi tiga kelompok, yakni sisi kiri, kanan dan sisi tengah sungai guna memetakan titik-titik kerawanan sepanjang Kali Woro hingga Kali Dengkeng. Pasalnya, banjir dan longsor sering melanda Klaten.

“Sisi kiri dan kanan, masing tiga orang, sedangkan tengah empat orang. Ada empat ancaman pokok yang digali sebagai data dalam susur sungai ini, yakni ancaman fisik, ancaman ekonomi, ancaman sosial dan pendidikan serta alih fungsi lahan. Finish-nya di wilayah sungai Serenan, Sidowarno, Kecamatan Wonosari,” tandas koordinator TRC-BP Klaten, Sasongko Agung Wibowo, Senin (3/11).

Sasongko, juga merupakan Koordinator Bidang Operasi Search And Rescue (SAR) Klaten, mengatakan sebelum erupsi Gunung Merapi 2010, SAR Klaten telah melakukan pemetaan titik kerawanan bencana melalui kegiatan susur sungai seperti ini.

“Hasilnya, tentu lebih mengkhawatirkan pascaerupsi, terutama alih fungsi lahan. Pasalnya lebar tanggul menjadi lebih sempit dan permukaannya dangkal. Kemudian di beberapa titik juga berubah menjadi ladang,” kata Sasongko, saat disinggung perbedaan kondisi Kaliworo sebelum dan sesudah erupsi Merapi.

Menurutnya, alih fungsi lahan itu berimbas pada banjir lahar dingin, terutama saat turunnya hujan lebat di puncak Gunung Merapi.

Terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten, Sri Winoto, mengatakan ada kemungkinan setiap tahun kegiatan susur sungai bakal dilaksanakan. “Dengan memiliki peta kerawanan sungai di Klaten, kami bisa mengetahui ancaman apa saja yang ditimbulkan dari data-data hasil susur sungai tersebut. Sehingga jika setiap tahun kami update, kami jadi tahu progres-nya,” urai Sri Winoto.

Editor : Andi Penowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge