0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Telor Busuk Olahan Marak Beredar Jadi Makanan Siap Saji

Peternak itik petelur sedang mengemas hasil produksi unggasnya (Dok.Timlo.net/Indratno Eprilianto)

Timlo.net – Terbongkarnya makanan olahan telor asin dan makanan siap saji dari bahan telor busuk, terungkap setelah adanya temuan pembuangan limbah telor ke sawah petani. Dari penyelidikan lanjutan, didapati sebuah gudang makanan diolah dari bahan telur. Ironisnya, telor-telor digunakan hampir 30 persennya sudah busuk.

Peredaran telor busuk olahan dijual sejumlah pedagang keliling di Kabupaten Jembrana, Bali sontak membuat geger masyarakat setempat. Sayangnya, pihak pemerintahan terkait seperti cuek dan tidak menyikapi serius. Justru jajaran Polsek Mendoyo langsung melakukan lidik terhadap penjualan telor busuk olahan itu.

Hasilnya ditemukan ratusan telor busuk atau apkiran dipasok dari sejumlah peternakan ayam dan bebek untuk diolah dan kemudian dipasarkan. Dengan temuan ini, instansi terkait diminta turun tangan mengecek, sekaligus mengambil tindakan terhadap mereka terlibat penjualan telor busuk.

Kapolsek Mendoyo Kompol Wayan Sinaryasa melalui Kanit Intelkam Iptu Ida Bagus Gunada, membenarkan pihaknya telah melakukan lidik terhadap keluhan warga, terkait beredarnya telor busuk diolah. Lidik itu, menurutnya melibatkan sejumlah personil Intelkam.

Pihaknya sudah menemui dan meminta keterangan sejumlah pedagang telor olahan keliling di pasar Tegelcangkring dan dikatakan telor olahan itu disuplai oleh Made Sudarsih (27), salah seorang warga Baler Bale Agung, Kelurahan Tegalcangkring, Mendoyo.

“Dari keterangan ini, kami langsung melakukan pengecekan ke rumah yang bersangkutan,” terangnya.

Berdasarkan hasil pengecekan, ternyata ditemukan stok telor apkiran sebanyak 350 butir belum diolah, serta ratusan telor apkiran telah diolah dan dibungkus dengan plastik.

“Sudarsih mengaku telah menekuni bisnis tersebut sejak beberapa tahun lalu dengan keuntungan yang lumayan besar,” ujar Made Maharta, Minggu (2/11).

Dari penyidikan awal, Sudarsih mengaku membeli telor apkiran seharga Rp 11 ribu perkrat.

“Telor-telor apkiran tersebut kemudian direbus dan dikupas kulitnya untuk selanjutnya digoreng dengan dicampur bumbu. Setelah jadi telor-telor itu dibungkus dengan plastik, satu bungkus isinya dua butir dijual Rp 2000 perbutir. Bayangkan berapa untung yang diperolehnya,” terang Maharta berdasarkan BAP Sudasih. [cob]

 

:Sumber : merdeka.com

Editor : Andi Penowo

Komentar Anda

loading...
KEMBALI KE ATAS badge