0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kemarau, 10 Ribu Hektar Lahan Tadah Hujan Bero

Gara-gara tak ada air hujan, lahan milik petnai ini dibiarkan bero (dok.timlo.net/nanin)

Boyolali — Musim kemarau yang panjang membuat tadah hujan tidak bisa produksi. Akibatnya 10 ribu lahan tadah hujan di wilayah Boyolali utara bero. Petani tidak bisa mendapatkan air untuk mengolah lahna pertanian tersebut. Sebelumnya, mereka masih bisa menanami dengan tanaman palawija.

10 ribu hektar lahan tadah hujan yang dibiarkan bero tersebar di enam kecamatan, seperti Klego, Nogosari, Juwangi, Simo, Kemusu, Karanggede dan Wonosegoro. Lahan tadah hujan sendiri selama ini sangat mengandalkan air hujan dalam mengolah areal persawahanya. Pada puncak musim kemarau ini, lahan yang sebelumnya ditanami tanaman palawija, seperti kedelai, jagung dan kacang, saat ini sama sekali tidak ditanami.

“Petani membiarkan saja lahanya menjadi bero, Oktober nanti bila hujan sudah turun baru bisa ditanami,” ungkap Kepala Distanbunhud Boyolali Ir Bambang Purwadi, Senin (30/9).

Sementara guna peningkatan hasil panen, Pemkab Boyolali menyelenggarakan bantuan Sekolah Lapang Pertanian Tanaman Terpadu (SLPTT), baik untuk tanaman jagung , kedelai dan padi bagi kelompok tani. Menurut Bambang Purwadi, untuk SLPTT jagung sebanyak 44 kelompok tani yang tersebar di 9 kecamatan di 27 desa. Sementara untuk SLPTT kedelai untuk 66 kelompok tani tersebar di 5 kecamatan di 31 desa.

Dalam SLPTT jagung, kelompok tani akan memperoleh benih jagung dengan harga bersubsidi untuk benih jagung hanya Rp 12 Ribu per kilogramnya dari harga umum di pasaran sebesar Rp 25 ribu , Sedangkan harga kedelai hanya dibeli oleh kelompok tani sebesar Rp 3.094 perkilogramnya dari harga umum di pasaran Rp 12 ribu per kilogramnya .



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge