0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Solo Owl Lovers, Anggota Dilarang Jual-Beli Burung Hantu

Rendra, Ketua Solo Owl Lovers. (Dok.Timlo.net/ Heru Murdhani)

Solo — Burung Hantu. Bagaimana pendapat Anda kalau mendengar kata itu? Seram bukan. Tapi dikalangan pecintanya, memelihara Burung Hantu adalah hobi yang mengasyikkan. Apalagi di kalangan masyarakat Jawa, burung ini disebut pula dengan Manuk Huk atau Manuk Ceguk karena suaranya kalau bersiul mirip orang lagi ceguk’en. Hwuk! Hwuk! Hwuk!

Di Solo juga sudah ada komunitas pecinta burung hantu, mereka menamakan dirinya Solo Owl Lovers atau disingkat SOLO. Komunitas yang sudah ada sejak 8 oktober 2012 ini mengaku selain untuk memenuhi kegemaran, juga sebagai upaya untuk melestarikan keberadaan dan keindahan Burung Hantu.

Menurut ketua SOLO, Rendra, komunitas ini memberlakukan aturan yang ketat kepada anggotanya. Wah, kok seperti celana saja, ketat. Aturannya apa saja ya? Nah, peraturan yang paling dasar di komunitas ini adalah, komitmen tidak memperjual-belikan Burung Hantunya, atau pun Burung Predator lain, seperti Elang, dan lain-lain.

“Komunitas kami masih kecil, sampai sekarang masih beranggotakan 19 orang saja, itu karena kami memberlakukan peraturan yang ketat pada komunitas kami,” ujarnya.

Selain lucu, sebagai binatang piaraan, burung hantu terbilang cerdas dan bisa dilatih keterampilannya. Burung hantu yang sudah jinak dan hafal dengan majikannya bisa dilatih untuk terbang menghampiri majikannya ketika dipanggil dengan peluit atau siulan. Wah, jadi teringat film kartun era-1980’an ‘Elang Perak’ atau ‘Silver Hawk’ atau sosok Brama Kumbara dalam film jadul ‘Saur Sepuh’ yang sering naik burung Rajawali.

“Kalau Gathering biasa seperti ini, kami enggak bawa Owl (burung hantu — Red), Mas, tapi kalau latihan bersama aja, Mas,” kata Rendra saat ditemui di Sriwedari, Kamis (26/9).

Anda mau bergabung di komunitas ini? Ternyata syaratnya mudah, tidak membeda-bedakan, bahkan bagi mereka yang tidak punya burung hantu karena alasan-alasan tertentu, misalnya tidak boleh orangtuanya.

“Untuk keanggotaan sendiri sebenernya fleksibel, Mas. Bahkan ada juga anggota yang enggak punya Burung Hantu, yang penting tetap menjaga komitmen komunitas,” ungkap pria 28 tahun ini.

Wah, kalau hanya punya manuk emprit atau prenjak, boleh gabung tidak ya? Wah, kalau masalah itu, cobalah bertanya kepada Mas Rendra ini. Komunitas mereka selalu berkumpul setiap Minggu di sekitar Taman Balekambang Solo. Setidaknya Anda turut andil dalam melestarikan satwa di alam raya ini. Jangan sampai punah!

“Kami mencoba menjaga kelestarian burung hantu yang ada di alam, dengan merilis (membebaskan) burung hantu ke alam bebas,” pungkasnya mengakhiri wawancara dengan Timlo.net.



Komentar Anda

loading...
KEMBALI KE ATAS badge