0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

UMK Tak Dituruti, PHK Besar-besaran

(Ilustrasi) Uang. (Dok:Timlo.net/Ranu)

Solo — Pembahasan besaran kebutuhan hidup layak (KHL) untuk penetapan dasar upah minimum kota (UMK) Solo belum menentukan hasil. Kalangan pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) terpaksa akan melakukan pengurangan karyawan (PHK) dalam skala besar jika besaran UMK yang ditetapkan melebihi usulan dari pengusaha.

Dalam pertemuan di  kalangan internal Apindo Sabtu (28/9) kemarin, ditetapkan usulan KHL dari kalangan pengusaha sebesar Rp 1.000.000. Angka tersebut ternyata lebih rendah dari usulan sebelumnya sebesar Rp 1.023.581.

“Angka diatas itu terasa sulit bagi kami. Tidak menutup kemungkinan akan ada pengurangan karyawan dalam jumlah yang besar jika UMK yang ditetapkan jauh diatas angka itu,” kata Sekretaris Apindo Kota Solo, Wahyu Hariyanto.

Menurutnya, usulan besaran KHL dari kalangan buruh yang menginginkan kenaikan 40 persen dari UMK saat ini atau senilai Rp 1.282.620 dirasa sangat memberatkan. Ada sejumlah parameter yang diklaim menjadi penyebabnya.

Diantaranya, kenaikan tarif dasar listrik (TDL), bahan bakar minyak (BBM) dan kenaikan suku bunga bank menjadi pukulan telak bagi pengusaha. Hal itu ditambah dengan melemahnya nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan ini.

Faktor lain, naiknya nilai produksi yang diikuti dengan naiknya harga jual produk saat ini tidak direspon positif oleh pasar. “Pasar sekarang ini lesu. Terutama bagi pengusaha lokal yang mengeluh karena omset menurun,” terangnya.

Ia berharap kepada Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo untuk mempertimbangkan sebaik-baiknya dalam menentukan KHL. Terkait hal tersebut, Senin (30/9) besok pihaknya akan mengirim surat ke Walikota yang berisi tentang kondisi riil dunia usaha di kota Solo saat ini.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge