0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Ini Dia, 9 Kepalsuan Mobil Murah Versi Tulus Abadi

Mobil murah, Astra Agya dan Ayla. (dok.merdeka.com)

Timlo.net — Penolakan terhadap kebijakan mobil murah yang tertulis dalam Peraturan Pemerintah No 41 Tahun 2013 terus dilontarkan dari sejumlah pihak. Beberapa kepala daerah bahkan terang-terangan menolak kebijakan ini.

Anggota Dewan Transportasi Kota Jakarta, Tulus Abadi menilai terdapat 9 kepalsuan dalam kebijakan mobil murah ramah lingkungan atau low cost green car (LCGC) ini.

“Di mobil yang seolah-olah mobil hijau ini. Ada 9 kepalsuan dalam kebijakan LCGC,” ujar Tulus, dalam diskusi Sindo Radio di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat dalam tajuk ‘Mobil Murah Diuji, Transportasi Layak Dinanti,’ Sabtu, (28/9).

Tulus menjabarkan, kepalsuan pertama yang ada yakni penggunaan kata ‘biaya murah atau low cost’ disebutnya sebagai pelecehan masyarakat. Pasalnya, pemerintah menyasar kebijakan ini untuk masyarakat kelas menengah ke bawah. Namun, masyarakat pada kelas tersebut lebih mementingkan sembako dari pada mobil.

“Selain itu, letak murahnya di mana? Di Libya saja mobil itu harganya Rp 50 juta. Kalau di sini, orang beli rata-rat di kredit, harganya nambah. Jadi, mana yang low cost?” ujar Tulus.

Kepalsuan kedua, lanjut Tulus, yang ditemukan yakni tidak terbuktinya mobil hijau atau green car. Karena, mobil yang dijual sama-sama memakai bensin. “Masa mobil murah disuruh beli BBM mahal. Banyak mobil mewah pakai Premium. Jadi tidak ada green sama sekali,” paparnya.

Yang ketiga, tutur Tulus, seharusnya mobil memakai desain mobil nasional. Namun, menurut Tulus, hal tersebut termasuk menggantung, karena sebagian komponennya impor. Keempat, pemerintah mau melakukan ekspor mobil murah ini. “Mimpi kali, kita tidak ada reputasi ekspor (mobil). Bahkan, di ASEAN saja tidak ada reputasi, terus mau ekspor?” jelasnya.

Kepalsuan kelima, ucap Tulus, yakni mobil murah tersebut ditujukan juga bagi mereka yang tinggal di pedesaan. Tapi, hal itu dilihat Tulus tidak ada korelasi. Mobil LCGC yang dipasarkan memiliki desain untuk city car, sehingga tidak cocok masuk desa.

Keenam, akan dilakukan pengisian bensin memakai gas supaya ramah lingkungan. Lagi-lagi, Tulus menyebut hal itu hanya mimpi pemerintah semata. “Alasannya, SPBG di Indonesia cuma terpusat di Jabodetabek,” ungkapnya.

Selain itu, 17 ribu unit kendaraan roda empat disebut-sebut sudah di-indent (pesan). Puluhan ribu mobil tersebut, diyakini Tulus sudah dipesan 85 persen warga Jakarta. “Akhirnya, 30 ribu unit yang akan dipasarkan tahun ini pasti terserap di Jabodetabek,” ucapnya.

Kedelapan, peralihan pengguna sepeda motor ke mobil LCGC. Kepalsuan itu terlihat karena para pembeli sepeda motor saja sebagian menggunakan kredit. “Jadi kantong mereka tidak cukup, motor saja kredit,” tutur Tulus.

Terakhir, lanjut Tulus, SBY dalam satu kesempatan menyebut Indonesia pada 2030 harus mengurangi emisi karbon sebesar 26 persen. Sementara, mobil yang menjadi penyumbang polusi terus diperjualbelikan. “Ini kepalsuan dari kebijakan LCGC,” tandas Tulus. [hhw]

Sumber: merdeka.com



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge