0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

2013, Ekonomi Indonesia Tumbuh Melambat

SEMINAR EKONOMI-Seminar ekonomi bertajuk Kebijakan Fiskal dan Perkembangan Perekonomian Terakhir, di The Sunan Hotel Solo, Kamis (26/9) (Dok. Timlo.net/Andi Penowo)

Solo – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2013 ini diperkirakan masih akan mengalami perlambatan sebagaimana tahun lalu. Berkaca dari kondisi yang ada, Badan Kebijakan Fiskal pun menilai tahun ini menjadi puncak krisis ekonomi Indonesia.

Beberapa hal yang menunjukkan pelemahan ekonomi, disebutkan Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Luky Alfirman, di antaranya adalah nilai tukar rupiah yang melemah terhadap Dollar Amerika dan derasnya arus keluar modal asing. Selain itu juga terlihat dari defisit perdagangan dan gejolak Timur Tengah yang memengaruhi harga minyak dunia.

Pada triwulan II 2013, neraca perdagangan mengalami defisit sebesar US$ 0,6 miliar. Defisit transaksi berjalan semakin lebar dari semula US$ 5,8 miliar pada triwulan I 2013 menjadi US$ 9,8 miliar di akhir triwulan II 2013.

Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah juga terus terjadi pada semester II tahun ini. Padahal, jika mengacu pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara-Perubahan (APBN-P) 2013 ditentukan nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika sebesar Rp 9600. Namun kenyataannya per 31 Agustus 2013, nilai tukar rupiah menyentuh angka Rp 9887 perdollar Amerika.

Dengan situasi seperti ini, Luky Alfirman memerkirakan, pada 2013 pertumbuhan ekonomi Indonesia tak mampu menyentuh angka 6,3 persen sebagaimana ekspektasi pemerintah. Kemungkinan hanya akan tembus di kisaran 5,9 persen. Demikian pula untuk inflasi, diperkirakan tahun ini bakal melampaui patokan pemerintah sebesar 7,2 persen menjadi 9,2 persen.

“Ini karena dampak kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak),” jelasnya dalam seminar bertajuk Kebijakan Fiskal dan Perkembangan Perekonomian Terakhir, di The Sunan Hotel Solo, Kamis (26/9).

Sementara pengamat ekonomi Universitas Sebelas Maret, Lukman Hakim dalam kesempatan yang sama menyatakan, saat ini kesenjangan ekonomi di Tanah Air semakin lebar. Kendati pemerintah telah merilis berbagai program kebijakan pengentasan kemiskinan, namun secara keseluruhan belum cukup efektif mengatasi permasalahan ekonomi masyarakat.

Oleh sebab itu, menurutnya perlu strategi khusus agar Indonesia bisa bangkit. Dalam hal ini pola pembangunan yang berakar pada tradisi dan budaya bangsa. Termasuk etos kerja produktif seperti yang diterapkan di Jepang, Korea Selatan dan Cina.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge