0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Jimmy Soegiarto, Dari Dunia Rekaman Terjun ke Bisnis Media

Jimmy Soegiarto. (Dok: Timlo.net/ Istimewa)

Solo — Jalan hidup orang memang sering berliku dan apa yang terjadi di depan seringkali tidak bisa diantisipasi. Hal ini terlihat dari jalan hidup Jimmy Soegiarto. Masyarakat Solo mengenal pemuda ini sebagai CEO Koran Jitu.

Namun siapa sangka bahwa pria ini tidak memiliki pengalaman sama sekali di dalam bisnis media? Latar belakang pendidikan yang dimiliki pria kelahiran Solo, 6 Januari 1981 tersebut dapat dikatakan tidak berkaitan sama sekali dengan dunia jurnalistik.

Jimmy sendiri merupakan lulusan Jurusan Audio Design Science, Fakultas Arsitektur di University of Sydney, Australia tahun 2003. Awalnya dia sempat kuliah bisnis di Perth, Australia tersebut pada 2001 sebelum memutuskan pindah jurusan. Alasan Jimmy memilih jurusan di bidang audio adalah memang dia suka musik semenjak SMA.

Dia bahkan bekerja sebagai sound engineer di sebuah production house terkenal di Australia selama empat tahun. Di sana dia terlibat dalam proses produksi beberapa musisi Australia dan musisi internasional.  Misalnya, dia pernah terlibat dalam produksi konser John Mayer dan Bon Jovi.

Di Australia juga, Jimmy pernah bertemu dengan berbagai musisi Indonesia seperti Melly Goeslaw, Netral, Jamrud, Dewa dan Mulan. Dia bahkan pernah memperoleh penghargaaan sebagai Young Engineer of The Year. “Saya merasa waktu itu saya punya hoki yang bagus. Dan bahkan di sana saya tinggal satu apartemen dengan para sound engineer lain yang berbakat,” terang Jimmy saat ditemui di Melly Glow, Hartono Mall, Jumat (20/9) sore.

Bangkrut, pulang ke Indonesia

Waktu itu karir anak bungsu dari dua bersaudara itu sedang berada di puncak. Namun siapa sangka, perusahaan tempatnya bekerja mengalami kebangkrutan. Dia pun terpaksa pulang ke Indonesia. Walaupun begitu pria berkacamata itu mengaku bahwa waktu itu dirinya merasa tidak bimbang. “Saya merasa bahwa kondisi itu terjadi karena kehendak Tuhan. Kalau memang waktunya untuk pulang (ke Indonesia) ya saya pulang. Dan kalau itu kehendak-Nya saya yakin saya tidak akan ditelantarkan,” ujar Jimmy yang saat ditemui Timlo.net berpakaian santai.

Lulusan SMA 3 Solo itu menceritakan sebuah kejadian yang diyakininya sebagai pertanda yang memperkuat keyakinannya bahwa pulang ke Indonesia adalah kehendak Tuhan, “Tanggal 19 saya diminta pulang oleh pihak Imigrasi Australia. Tanggal 20, saya mendapat tawaran tiket murah dari sebuah maskapai penerbangan di Australia lewat email.”

Terjun ke dunia media

Setelah sampai di Solo, dia melihat sebuah hal yang menurutnya jadi peluang.  Koran-koran yang hanya berisi iklan banyak tersedia di Australia, tapi pria tersebut waktu itu belum menemukan hal yang serupa di Solo.

Tanpa pengalaman apapun di bisnis media, Jimmy memutuskan untuk mencoba membuat koran serupa seperti di Australia. Tentunya dengan modifikasi, bila koran di Negeri Kangguru itu hanya berisi iklan, Jimmy memiliki konsep bahwa koran yang akan dibuatnya itu memiliki konten berita.

Jimmy mengaku bahwa dia merasa takut saat akan memulai terjun di bisnis ini. Dia tidak punya pengalaman dan modal pas-pasan. “Melakukan apa-apa harus berani dulu. Baru kita lihat jalannya gimana,” katanya. Dia berusaha supaya ketakutannya tidak menghalangi keputusannya untuk mencoba bisnis tersebut.

Bergelut dalam bisnis media mengajarkan banyak hal kepada Jimmy.  Bisnis ini baginya benar-benar melatih mental dan paradigmanya terhadap kegagalan karena tahun-tahun awal dirinya selalu mengalami kerugian. “Kalau besok masih hidup, berarti masih ada solusi,” ujarnya mengatakan pandangan yang membuatnya terus berusaha di bidang ini.

Selain itu, Jimmy belajar sebuah hal yang perlu dilakukan sebelum terjun dalam bisnis apapun, yaitu pentingnya survei market untuk meminimalkan resiko kerugian bisnis.

Belum berminat kembali ke dunia rekaman

Jimmy sendiri mengaku bahwa dirinya belum berminat kembali ke dunia rekaman. Bila melihat kembali kebangkrutan yang dialami oleh perusahaan tempatnya bekerja di Australia, Jimmy mulai memahami bahwa kondisi industri musik di Negeri Kangguru tersebut waktu itu mengalami keterpurukan. Keputusan untuk kembali ke Solo, dan berpindah haluan ke bisnis lain pada 2007 rupanya merupakan pilihan yang tepat. Karena bila dia memaksakan untuk tetap tinggal di Australia sebagai sound engineer, maka Jimmy bisa menderita kerugian.

Sebenarnya Jimmy sendiri pernah terlibat dalam industri rekaman di Indonesia. Dia pernah terlibat dalam pembuatan album pertama penyanyi Petra Sihombing. Namun pria yang hobi bermain basket itu mengaku belum tertarik untuk menggeluti dunia audio lagi.

Selain terjun di dunia media, pria yang mengagumi Steve Jobs tersebut juga merambah bisnis-bisnis lain. Saat ini, Jimmy menjabat sebagai general manager Melly Glow, bisnis karaoke waralaba dengan Melly Goeslaw sebagai brand ambassador. Dia juga berencana membuka restoran di sebuah hotel bulan depan dengan konsep bus double decker.

Editor : Ranu Ario

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge