0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Reformasi Subsidi BBM Dorong Inflasi Lebih Tinggi

Antri BBM di SPBU (Dok.Timlo.net/ Nanang R)

Solo —  Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta berkerja sama dengan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia menggelar Seminar Kebijakan Fiskal dan Perkembangan Perekonomian Terkini, di Hotel Sunan, Solo, Kamis (26/9). Seminar menampilkan pembicara, Ketua Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Kementerian Keuangan Dr Luky Alfirman dan Dosen FE UNS Dr Lukman Hakim.

Dr Luky mengatakan, reformasi subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) telah mendorong inflasi yang lebih tinggi, namun inflasi inti masih tetap stabil. “Inflasi sepanjang tahun 2012 sebesar 4,30 persen (ytd, yoy), rata-rata nilai inflasi 2012 sebesar 4,28 persen, lebih rendah dibandingkan rata-rata 2011 sebesar 5,38 persen. Inflasi Agustus 2013 sebesar 1,12 persen (mtm) dan 7,94 persen (ytd) atau 8,79 persen (yoy). Tetapi inflasi inti masih tetap stabil,” jelasnya.

Menurutnya, dampak keseluruhan dari penyesuaian harga BBM dan faktor musiman (bulan Ramadhan) lebih rendah dari yang diperkirakan dan dampak tersebut akan bersifat sementara. Volatilitas harga pangan dan kenaikan harga listrik adalah sumber utama tekanan inflasi.

Terkait perkembangan perekonomian domestik terkini, Luky mengatakan bahwa bila dilihat dari nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (USD) pada per 20 September 2013 menunjukkan Rp 11.041 per USD, depresiasi 12,74 persen (ytd). Tekanan volatilitas mulai mereda setelah Bank Indonesia merespon dengan beberapa kebijakan.

“Pertumbuhan PDB, Quartal 2-2013 sebesar 5,81 persen (yoy), 2,61 (qoq), semester 1 – 2013 sebesar 5,92 persen (yoy). Selama 2013, outlook pertumbuhan sebesar 5,9 persen,” ungkapnya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge