0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Mimbar Teater Indonesia Digelar di TBJT

Salah satu penampilan dalam Mimbar Teater di TBJT (dok.timlo.net/achmad khalik)

Solo — Waktu telah menunjukkan pukul 12.00 siang. Sandek mulai lapar. Di saat itulah, sang direktur mengajaknya makan. Sandek memakan makanan yang disuguhkan direktur perusahaannya dengan sangat lahap.

Perbincangan pun mulai berlangsung. Keduanya berkelakar tentang latar belakang mereka masing-masing. Namun, tanpa dinyana kedua orang (Sandek dan Sang Direktur) ternyata memiliki kesamaan, baik dari nama istri, jumlah saudara, nama ayah dan nama ibu mereka. Ternyata, itu hanyalah kedok Sang Direktur untuk merangkul Sadek yang merupakan koordinasi buruh di tempat perusahaan yang dibangun Sang Direktur.

Ya, itulah sedikit cerita pementasan teater yang disajikan oleh Kelompok Teater Sastra dan Teater Noktah Sumatera Barat dengan judul “Interogasi” karya Arifin C Noor di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Rabu (25/9) malam. Pementasan yang dibawakan dalam acara Mimbar Teater Indonesia (MTI) #3 tersebut membuat penonton berpikir keras. Dimana, dalam fragmen-fragmen pertunjukan saling terkait antara satu adegan dengan adegan yang lain.

Digambarkan seorang perempuan tua renta datang kedalam sebuah peresmian penemuan besar di abad 21. Sang Profesor dengan lantang mengatakan penemuan yang ditemukan tersebut merupakan buah pikir manusia. Bahkan, malaikat dan setanpun bersujud tatkala manusia pertama mulai diciptakan. Sehingga, manusia merupakan makhluk tertinggi dibawah Tuhan Yang Maha Esa.

Adu mulut pun terjadi, wanita tua yang merupakan ibu dari Profesor tersebut mulai meluruskan pikirannya. Namun, hal itu tidak selaras dengan pemikiran Sang Profesor. Perempuan yang tua renta itupun mulai naik pitam sehingga melaknat anak yang durhaka tersebut.

Tak sampai di situ saja, kelompok teater yang telah malang melintang dalam pertunjukan teater nusantara tersebut juga menyinggung tentang kondisi bangsa Indonesia yang saat ini tengah dilanda ketimpangan. Keberpihakan kepada kaum elit dan mengesampingkan hak orang miskin tergambar sangat kental melalui

sepasang suami istri datang kerumah sakit mengharapkan perawatan. Dengan menyimpan harapan akan kesembuhan dan mendapat pertolongan dari rumah sakit, untuk sembuh dari penyakit yang dideritanya. Namun, pil pahit terpaksa ditelan mengingat tingginya biaya rumah sakit. Terpaksa, keduanya harus menyelinap untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit itu. Kepala rumah sakitpun geram dan memerintahkan pihak keamanan untuk mencari kedua pasangan yang menyelinap tersebut. Singkat cerita, keduanya tertangkap dan terpaksa mereka diusir keluar rumah sakit tersebut.

“Manusia tak dapat sembunyi dari kenaifan. Hal itu saya gambarkan melalui pertunjukan yang saya angkat ini. Keserakahan, kebenaran, kenaifan dan sifat-sifat manusia yang lain saya gambarkan melalui pementasan ini. Sehingga, manusia tanpa sengaja mengeluarkan sifat aslinya,” terang sutradara pertunjukan, Syuhendri ketika ditemui Timlo.net usai pertunjukan.

Dirinya juga menjelaskan, modernisasi yang melanda saat ini juga turut memberi andil besar dalam hilangnya nilai-nilai kemanusiaan dan adat istiadat yang dulu dijunjung tinggi oleh masyarakat daerah. Dalam pementasan tersebut dirinya simbolkan dengan sebuah kursi yang merupakan interpretasi dari kekuasaan.

“Mungkin penonton agak sedikit bingung dengan pementasan yang kami tampilkan. Namun, melalui penjelasan narator yang kita tampilkan ini dapat memperjelas maksud dari pementasan yang kita usung,” terang Syuhendri.

Melalui pertunjukan tersebut dirinya berharap dapat mengembalikan esensi kebenaran selama ini yang masih tersisa dalam diri manusia. Tak hanya tergoda akan situasi dan kondisi yang makin sulit, namun manusia harus mampu melihat dengan hati apa yang terjadi di sekelilingnya.

“Banyak hal-hal yang kurang tepat di sekitar kita. Melalui pertunjukan ini kami ingin menggugah perasaan tersebut agar tercipta keserasian dan keselarasan dalam kehidupan,” pungkas Syuhendri.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge