0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Calo PNS Jadi Buronan

Kapolres Boyolali, AKBP Budi Haryanto (Dok.Timlo.net/ Nanin)

Boyolali — Jajaran Polres Boyolali terus memburu Winarno, warga Desa Randusari, Kecamatan Teras, tersangka kasus penipuan calo PNS dengan kerugian ratusan juta rupiah. Tersangka diketahui saat ini sudah meninggalkan wilayah Boyolali, namun petugas reskrim sudah disebar ke berbagai wilayah memburu tersangka.

Perburuan terhadap tersangka Winarno, yang diduga merupakan anggota sindikat penipuan dilakukan setelah pihaknya berwajib memiliki barang bukti yang cukup. Penyelidikan keterlibatan Winarno sendiri sudah dilakukan sejak bulan Juli lalu, sesuai dengan laporan salah satu korban, Novi warga Sawit, yang mengaku ditipu tersangka sebesar Rp 750 juta rupiah.

“Setelah bukti cukup, kita tetapkan Winarno sebagai tersangka, saat kita hendak lakukan penangkapan ternyata tersangka sudah pergi dari Boyolali,“ ungkap Kapolres Boyolali AKBP Budi Haryanto melalui Kasatreskrim AKP Dwi Haryadi, Rabu (25/9).

Dijelaskan Kasat, kerugian yang dilaporkan korban mencapai ratusan juta rupiah. Meski disebutkan terdapat lima korban, namun yang melaporkan ke polisi hanya satu orang, yakni Novi saja.

“Korban kemungkinan masih banyak,untuk wilayah Boyolali kemungkinan ada lima korban,tapi baru satu yang melaporkan,” ungkap Kasat Reskrim.

Kasus ini sendiri terungkap setelah korban Novi melaporkan penipuan yang dilakukan tersangka dengan modus dijanjikan masuk PNS di Kementrian Keuangan. Novi dalam laporanya, mengatakan dirinya bersama dengan empat korban lain telah tertipu sebesar Rp 750 juta per orang. Menurut Novi, penipuan tersebut berawal pada 3 Maret 2012 silam. Saat itu, ibunya bertemu dengan Winarno yang mengaku memiliki saudara di Kemenkeu. Kepada ibunya, Winarno secara meyakinkan menyatakan dapat memasukkan orang menjadi CPNS di Kemenkeu.

Terpikat, Novi dan empat korban lainnya bahkan sempat mengikuti tes di Banten. Saat itu menurut dia ada 11 orang yang mengikuti tes di sana. Setelah dinyatakan lulus tes mereka diminta menyiapkan uang Rp 410 juta sebagai dana awal masuk sebagai pegawai honorer. Setelah itu, Winarno datang ke rumah Novi dan meminta bayaran lagi sebesar Rp 340 juta. Setelah dibayarkan lunas, Novi dan empat korban lainnya dijanjikan akan dijemput kendaraan Kemenkeu pegi ke Jakarta untuk Diklat. Hanya saja hal itu tinggal janji hingga saat ini, bahkan Winarno menghilang.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge