0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Sistem Transaksi Elektronik Tak Banyak Diminati Penumpang BST

Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kota Solo, Sri Indarjo (Dok. Timlo.net/Andi Penowo)

Solo – Sistem transaksi elektronik yang diterapkan pemerintah Kota Solo untuk layanan Batik Solo Trans (BST), sejauh ini belum banyak diminati penumpang.

Hal itu terlihat dari masih minimnya penggunaan kartu elektronik yang diterbitkan sejumlah lembaga perbankan. Seperti diakui Area Manager Bank Mandiri Solo, Hendra Wahyudi, hingga kini pengguna Kartu Mandiri Prabayar untuk layanan BST masih terbilang minim. Sehingga pihak bank harus menggelar program diskon untuk mendongkrak penggunaan kartu transaksi elektronik tersebut.

“BST sendiri tetap yang paling tinggi transaksinya masih secara tunai (nonelektronik-red). Oleh sebab itu harus kita support terus transaksi elektronik di masyarakat,” kata dia, ketika ditemui wartawan, seusai menghadiri acara BUMN Marketers Club, di Kantor Telkom Solo, Selasa (24/9).

Kondisi serupa turut diakui pula oleh Branch Manager BNI Solo, Syarif Sagap. Menurutnya, sejauh ini sistem transaksi elektronik yang diterapkan di BST masih belum banyak diminati penumpang. Terlihat dari relatif kecilnya penggunaan Kartu Intermoda yang diterbitkan pihak bank.

“Sebenarnya Kartu Intermoda ini untuk menjembatani agar penumpang lebih mudah dalam pembayaran. Hanya saja pengguna sarana transportasi lebih memilih pakai uang tunai. Jadi animo masyarakat memang masih kurang,” ujarnya.

Kerap tidak berfungsinya mesin pembaca kartu pada BST, ditengarai menjadi salah satu penyebab rendahnya minat penumpang menggunakan kartu elektronik. Pihak BNI menilai, hal itu terjadi lantaran kurang adanya kontrol dalam pengelolaan mesin transaksi elektronik tersebut.

Sementara itu, Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kota Solo, Sri Indarjo, tidak memungkiri jika jumlah penumpang BST yang menggunakan kartu elektronik masih relatif rendah. Tercatat dari sekira 3 ribu penumpang BST perhari, tak sampai lima persen yang membayar dengan kartu elektronik.

Namun, pihaknya membantah jika rendahnya minat penumpang atas sistem transaksi elektronik lantaran rusaknya mesin pembaca kartu. Sejauh ini, alat tersebut berfungsi seluruhnya, bahkan lebih canggih dan lebih cepat membaca kartu.

Ia memandang, minimnya penumpang mengakses sistem layanan elektronik BST lebih disebabkan belum populernya jenis transaksi tersebut di masyarakat. Banyak kalangan masih lebih senang bertransaksi secara tunai, sehingga dibutuhkan sosialisasi secara kontinyu.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge