0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kemendikbud Naikkan Honor Penemu Fosil Purbakala

Salahs atu fosil purbakala yang dipamerkan di Graha Soloraya (dok.timlo.net/dhefi nugroho)

Solo —  Rendahnya penghargaan pada masyarakat yang menemukan fosil purbakala menyebabkan masih maraknya penjualan fosil purbakala secara ilegal. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berupaya meningkatkan honor penemu fosil purbakala untuk menghindari penjualan fosil ilegal.

Besaran nilai honor bagi penemu fosil diklaim telah diperbaiki dari tahun-tahun sebelumnya. Meski tidak ada nilai pasti dalam menentukan besaran honor, namun nilai yang diberikan lebih besar dari tahun ke tahun.

“Kisarannya berbeda-beda. Yang paling mahal kalau menemukan batok (tengkorak) kepala,” kata Kepala Pusat Arkeologi Nasional, Bambang Sulistyanto kepada wartawan, Rabu (25/9) ketika ditemui di sela-sela Pameran Situs Purbakala di Graha Soloraya.

Menurutnya, perbaikan anggaran untuk pemberian kompensasi penemu fosil dilakukan seiring dengan maraknya penjualan fosil secara ilegal. Seperti halnya kasus penjualan fosil secara ilegal yang terjadi di kawasan Situs Sangiran, Sragen beberapa tahun lalu.

Dengan adanya kasus tersebut, pihaknya tidak ingin kecolongan lagi di tahun-tahun selanjutnya. Dengan adanya peningkatan kompensasi ditambah dengan adanya kesadaran masyarakat yang tinggi terhadap besarnya nilai peninggalan masa lalu, diharapkan tidak ada lagi kasus serupa di saat ini.

“Generasi sekarang sudah mulai sadar. Kami terus membina masyarakat dengan memberi pelatihan serta meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memelihara situs,” ungkapnya.

Sementara, Kasi Pemanfaatan dan Publikasi Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, Gunawan mengungkapkan, ekskavasi di sejumlah lokasi di kawasan Sangiran hingga kini masih dilakukan. Penemuan-penemuan situs purbakala juga masih banyak ditemukan.

“Tahun ini kira-kira ada 50 fragmen yang ditemukan dari hasil ekskavasi di desa Bukuran dan Dayu, kecamatan Plupuh, Sragen. Ekskavasi di Manyarejo, kecamatan Plupuh juga masih dilakukan,” ungkapnya.

Dengan adanya kasus-kasus penjualan fosil secara ilegal yang ditangani secara hukum beberapa tahun lalu, menjadikan sebuah shock therapy bagi masyarakat pencari fosil. Kini, masyarakat lebih memilih memberikan hasil penemuannya pada Balai Arkeologi ketimbang menjualnya secara ilegal.

Pemberian kompensasi kepada penemu fosil saat ini juga lebih cepat dari sebelumnya, yakni 3 kali dalam setahun. Jadi, masyarakat tidak menunggu lama untuk bisa menikmati imbalan dari hasil penemuannya tersebut.

Dari sisi nilai materi, besarannya beragam, ditentukan dari berapa besar nilai Arkeolog penemuan tersebut. “Kemarin yang paling besar Rp 10 juta saat penemuan rahang atas gajah. Kalau fragmen-fragmen yang tidak bisa direkonstruksi, nilanya kurang dari itu,” terang Gunawan.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge