0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Di Era Komputerisasi, Servis Mesin Ketik Masih Eksis

Suharto ketika menyervis mesin ketik kepunyaan Dinas Kesehatan Wonogiri. (dok.timlo.net/aris arianto)

Wonogiri — Keberadaan mesin ketik manual saat ini semakin terpinggirkan, setelah era komputerisasi dan digital melanda. Kendati demikian, masih ada orang-orang yang tetap setia menekuni pekerjaan yang berhubungan dengan mesin ketik. Diantaranya tukang servis mesin ketik.

Seperti dikemukakan Suharto (55), seorang tukang servis mesin ketik manual. Ia setia menjalani profesinya, meskipun  sadar tidak bisa menggantungkan hidup hanya dengan menyervis mesin ketik. Sehingaa, kedua anaknya tak ada yang meneruskan profesinya, mereka memilih bekerja di perusahaan.

“Saat ini sudah sangat jarang yang menyerviskan mesin ketik. Sebab, juga tinggal sedikit yang punya mesin ketik, sudah digantikan komputer, apa-apa sudah menggunakan komputer. Saya memilih menjalani pekerjaan ini sebab untuk mengisi waktu luang saja, ada usaha lainnya di rumah, anak-anak juga sering mengirimi uang, ” jelas Suharto ketika menyervis sejumlah mesin ketik manual milik Dinas Kesehatan Wonogiri, Rabu (25/9).

Dijelaskan, sudah sejak awal dasawarsa 2000-an atau pasca reformasi, terjadi penurunan permintaan servis. Penurunan bahkan menyentuh angka 80 persen pada saat ini. Dari semula ratusan unit, menjadi hanya 20an unit saban bulannya.

“Saat ini, perbulan rata-rata omzet sekitar Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta. Tapi itu masih kotor, belum dipotong biaya spare part dan lainnya. Untuk ongkos servis sekitar Rp 40 ribu, tapi tergantung kerusakannya. Kalau lebih banyak yang mesti diperbaiki, ya biayanya lebih besar. Servis biasa, hanya membersihkan kotoran yang menumpuk. Jika ada spare part yang harus ganti, diambilkan spare part merk lain, istilahnya dikanibal. Kalau terpaksa tidak ada stok, terpaksa mengambil dari Yogyakarta,” tandas pria yang mendapat ketrampilan servis ketika bekerja di Solo sekitar tahun 1975.

Lebih lanjut dirinya menceritakan, masa kejayaan mesin ketik terjadi pada tahun 1970 hingga 1990-an. Saat itu dirinya ikut merasakannya, ketika memutuskan membuka usaha mandiri di tahun 1982, kembali ke kampung halaman di Wonogiri. Hampir seluruh kantor memerlukan tenaganya.

“Kalau saat ini yang minta servis paling hanya kantor dan notaris. Untuk perorangan, jarang sekali,” pungkas Suharto seraya menyebutkan sejumlah peralatan kerja. Di antaranya, obeng, tang, kuas, mur dan baut, dan minyak pembersih.

 



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge