0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Tembus Pasar Timur Tengah dan Afrika

Sarung Goyor, Hangat saat Dingin, Sejuk saat Panas

Perajin menenun bahan sarung goyor. (Dok.Timlo.net/ Sahid B Susanto)

Sukoharjo — Industri sarung Goyor di Desa Pojok Kecamatan Tawangsari mulai mendunia. Sarung Goyor yang diproses dengan tenunan tradisional tersebut mampu menembus pasar ekspor.

Salah satu perajin sarung Goyor, Bambang Suroso mengaku, telah menekuni usaha tenun sarung goyor tersebut menjadi generasi kedua. Generasi pertama yang mulai melakukan produksi adalah pada tahun 1950.

“Sebelum tahun 2003 produksi cakupan penjualan kami hanya di Pasar Klewer. Namun sekarang alhamdulillah sudah sampai ke luar negeri,” ujar Bambang yang mulai menekuni usaha tenun sarung goyor sejak tahun 1987.

Sarung goyor buatannya mampu menembus pasar timur tengah dan Afrika. Bahkan setiap minggunya Ia harus mengirim 14 kodi sarung tenun untuk di ekspor. Harga sarung goyor tersebut dipatok Rp 130 ribu per sarung.

Bambang menjelaskan, tembusnya sarung goyor ke pasar ekspor adalah karena kualitas. Berdasarkan cara pembuatannya dibutuhkan ketelitian dan keterampilan. “Pebuatannya masih cara tenun tradisional sehingga kualitasnya ya dibilang unggul,” tuturnya.

Sarung goyor juga diklaim mampu menyesuaikan kebutuhan badan dengan iklim di sekitarnya. Misalkan iklim di tempat tersebut dingin, dengan menggunakan sarung goyor maka badan terasa hangat. Begitu sebaliknya, jika iklim ditempat panas, maka jika memakainya badan terasa sejuk.

Untuk memenuhi pesanan, Bambang juga membuka peluang bagi warga sekitar yang ingin membuat tenunan di rumah.

“Ada yang dibawa pulang. Jadi mereka mengerjakannya di rumah, tetapi bahannya dari sini. Tergantung kualitasnya jika bagus kita hargai tinggi,” ucapnya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge