0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Manajer Public Relations The Sunan Hotel

Retno Wulandari Dulu Ingin Jadi Wartawan

Retno Wulandari, Public Relations Manager The Sunan Hotel Solo (dok.timlo.net/ Ist)

Solo — Retno Wulandari dikenal oleh masyarakat Solo sebagai Public Relations (PR) Manager The Sunan Hotel, Solo. Berkat Retno, panggilan akrab Retno Wulandari, hotel tersebut pernah meraih Anugerah SCSI ( Solo Customer Satisfication Index) pada 2006.

Namun rupanya, semenjak kecil Retno bercita-cita ingin menjadi wartawan. Retno tidak membayangkan bahwa akhirnya dia memiliki profesi sebagai seorang PR.

Ditemui Timlo.net di Imperial Restoran, The Sunan Hotel, Jumat (20/9) siang, Retno berkisah bahwa cita-cita tersebut muncul setelah dia melihat Sherly Malinton, penyanyi dan bintang film yang terkenal pada era 1970-1980-an, mewawancarai Wakil Presiden ke-2, Adam Malik. Sherly yang waktu itu berusia 15 tahun menjadi wartawati cilik untuk majalah Kartini.

“Waktu itu saya berpikir ‘Wah enak ya jadi wartawan karena bisa ketemu orang-orang penting’,” terang Retno yang siang itu mengenakan baju batik. Memang semenjak kecil, Retno suka membaca buku dan menulis.

Padahal hampir semua anggota keluarganya berprofesi di bidang perbankan. Sewaktu hendak melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah, orang tua Retno sempat menyarankan dia mengambil jurusan ekonomi atau akuntasi. Tapi waktu itu dia malah mendaftar dua jurusan di UNS (Universitas Sebelas Maret) yaitu Hukum sebagai pilihan pertama dan Ilmu Komunikasi sebagai pilihan kedua.

Akhirnya dia diterima masuk di Fakultas Hukum. Dia sempat bekerja sebagai marketing di bidang pengelolaan dana (funding) di sebuah bank selama tiga tahun antara tahun 1996-1998. Kemudian pada tahun 2000, dia mulai bekerja sebagai sales marketing di The Sunan Hotel  Solo yang kala itu masih bernama Quality Hotel.

Wanita yang gemar travelling itu baru menjabat sebagai PR, setelah disarankan oleh general manager (GM) waktu itu. “Dia merasa saya punya potensi sebagai PR sementara hotel waktu itu butuh orang yang bisa berkomunikasi dengan publik,” terangnya.

Kali pertama Retno menjabat sebagai PR, dia merasa beberapa kendala. Salah satu kendala adalah bagaimana beberapa pihak meragukan kemampuannya sebagai seorang PR karena dia tidak memiliki background dalam bidang perhotelan dan tidak memiliki basic sebagai seorang PR.

Lantas bagaimana Retno mengatasinya? Dia merasa bahwa dia tidak perlu membela diri dengan kata-kata tapi membuktikan diri lewat karya-karyanya. “Saya punya visi untuk pekerjaan saya sebagai public relations. Dan saya membuktikan pada mereka lewat karya-karya saya sebagai seorang PR,” ujar Retno.

Salah satu hal yang menolong Retno sukses menjadi seorang PR adalah didikan orang tuanya. “Orang tua saya termasuk orang tua yang open minded. Mereka tidak membedakan orang. Rumah kami waktu itu terbuka 24 jam untuk orang. Semua orang boleh datang dan mengobrol,” jelas Retno.

Orang tuanya juga tidak pernah mengharuskan dia dan dua saudaranya untuk melakukan hal-hal tertentu. “Kami dibebaskan asalkan kami bertanggung jawab untuk diri sendiri,” ujarnya. Selain itu, salah satu prinsip yang dipegang teguh olehnya adalah bahwa sebagai seorang manusia dia harus hidup memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.

Sikap kedua orang tua yang suka bergaul itu diwarisi oleh wanita yang pernah mendapat penghargaan 50 Unggulan Kompetisi Wanita Karier Majalah Femina 2012. Semenjak kecil, Retno suka bergaul dengan siapa saja walaupun tidak pernah aktif terlibat dalam komunitas. Begitu dia menjabat sebagai PR di Quality Hotel Solo, dia sudah memiliki bayangan siapa saja yang harus dirangkulnya.

Selain itu, Retno rupanya bukanlah sosok yang berhenti belajar untuk mengembangkan karirnya. Pada tahun 2002, dia memutuskan untuk mengambil program Pasca Sarjana, Jurusan Manajemen Komunikasi FISIP UNS, Solo dan lulus dengan predikat clumlaude pada 2004.

Pada 2007, dia lulus program khusus Profesi Advokat UMS Solo dan pada 2010 dia lulus dalam program Pelatihan Mediator bersertifikat dari BAMI (Badan Mediasi Indonesia). Dua program tersebut diambilnya karena dia menyadari bahwa seorang public relations manager perlu memahami aspek hukum saat dia berinteraksi dengan masyarakat dan memiliki kemampuan sebagai mediator bila terjadi konflik antara hotel dengan masyarakat.

Bergelut di dunia PR selama 11 tahun, istri Ery Yahya ini melihat bahwa hampir semua yang hal yang pernah dicita-citakannya terwujud. “Saya dulu ingin jadi wartawan dan suka menulis, akhirnya saya ditawari menjadi penulis rubrik sebuah tabloid. Saya suka berbicara, akhirnya saya ditawari menjadi penyiar program acara sebuah radio di Solo,” tutur Retno.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge