0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

FKPPI Wonogiri Sudah Vakum Selama 25 Tahun

Pelantikan Pengurus Cabang FKPPI Wonogiri 2013-2017. (dok.timlo.net/aris arianto)

Wonogiri — Ketua Pengurus Cabang FKPPI (Forum Komunikasi Putra-putri Purnawirawan Indonesia) Wonogiri Edy Santosa menyebut ada kevakuman kegiatan di dalam organisasi FKPPI Wonogiri. Tak tanggung-tanggung, kevakuman itu sudah terjadi selama 25 tahun.

Sejak dikukuhkan kepengurusannya pada dua puluh lima tahun silam, Edy mengakui memang belum ada gebrakan dan aksi berarti dari FKPPI. Padahal saat itu, tak cuma di tataran kabupaten, pun di 19 kecamatan waktu itu telah dibentuk pula kepengurusannya.

“Dulu sebenarnya sudah terbentuk kepengurusannya hingga tingkatan kecamatan, ada 19 kecamatan. Tapi jujur saja memang belum ada kegiatan berarti, bisa dikatakan masih vakum. Permasalahannya apa, tidak perlu kita perdebatkan. Yang terpenting adalah bagaimana kedepan, FKPPI Wonogiri bangkit. Harus menjadi garda terdepan dalam upaya pembangunan bangsa,” ujar Edy melalui sambungan telepon, Senin (23/9).

Untuk mencapai tujuan tersebut, dirinya mengaku tidak bisa jika mengandalkan dari pengurus saja. Dewan pembina kabupaten dan kecamatan harus ikut memperhatikan dan turut serta aktif memberikan dorongan motivasi untuk anggota maupun pengurus. Ditambahkan, dewan pembina meliputi Dandim, Kapolres, hingga Danramil dan Kapolsek.

“Apalagi saat ini momennya tepat, baru saja kita memperingati HUT FKPPI ke-35 yang jatuh setiap tanggal 12 September. Dan lagi kepengurusan FKPPI Wonogiri yang baru, baru saja terbentuk dan dilantik,” jelasnya.

Sementara itu, Minggu (22/9) malam, digelar peringatan HUT FKPPI ke-35 dan pelantikan pengurus FKPPI dan Generasi Muda FKPPI (pengurus berusia di bawah 40 tahun) masa kepengurusan 2013-2017, di Makodim 0728/ Wonogiri. Kegiatan dihadiri Ketua Pengurus Daerah FKPPI Jateng Kecuk Hendrar Priyadi, perwakilan FKPPI se-Surakarta, dan pejabat Muspida dengan menyuguhkan hiburan wayang kulit ringkes bersama dalang Ki Lilik GHD

Dalam sambutannya, Bupati Wonogiri Danar Rahmanto menegaskan, saat ini sudah sedemikian banyak slogan, yel-yel, maupun pekik pembangkit semangat di berbagai organisasi dan institusi. Namun, diharapkan kalangan organisasi termasuk FKPPI tak cuma bersemangat melantangkannya tanpa mengetahui roh yang ada dalam slogan tersebut.

“Sudah terlalu sering kita dengarkan dan baca dimana-mana, ada slogan ‘ NKRI Harga Mati-NKRI Harga Mati’. Tapi kenapa Timor Timur dulu bisa lepas dari kita. Bukan slogannya yang kita kedepankan, bukan semangat dalam melantangkannya yang diutamakan, melainkan roh di dalamnya, yakni rasa nasionalisme. Hal ini yang terpenting dan harus ada untuk menjadikan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya, bisa tercapai,” tandas Danar.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge