0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Gita Wirjawan Sindir Pangeran Andrew Soal Sawit

Gita Wirjawan (dok.timlo.net/indratno eprilianto)

Timlo.net — Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mendapat kunjungan Pangeran Andrew di kantornya semalam. Dalam pertemuan itu, Gita banyak menyindir kampanye yang mengatakan bahwa kelapa sawit itu suatu hal yang negatif.

“Dia datang ke sini, ada makan malam juga. Kan kita bicarain, ada banyak kampanye negatif kelapa sawit datang dari Eropa dan Amerika, ini gimana dia bisa meningkatkan permasalahannya,” ujar Gita di Gedung Kemendag, Jalan Ridwan Rais, Jakarta, Jumat (20/9).

Gita mengatakan, respon yang diberikan Andrew lebih banyak mendengarkan. Menurut dia, Andrew pun belum memberi reaksi apapun.

“Dia sih mendengarkan. Tapi bukan berarti dia akan langsung membela atau apa,” ungkap Gita.

Lebih lanjut, Gita hanya ingin agar Andrew tahu bagaimana duduk permasalahan yang sebenarnya di balik kampanye negatif seputar kelapa sawit. “Yang penting dia tahu persoalannya bagaimana, posisi kita bagaimana,” pungkas dia.

Sebelumnya, Gita mengungkapkan kekecewaannya atas sikap negara maju Eropa dan Amerika Serikat yang mengatakan produk kelapa sawit tidak ramah lingkungan. Kelapa sawit menjadi salah satu produk ekspor andalan Indonesia.

Gita menjelaskan alasan produk ini dinilai tidak ramah lingkungan ialah tingginya karbon dalam produksi kelapa sawit ini. Untuk menentukan produksi karbon komoditas ini diperlukan suatu penelitian empiris.

“Mereka (negara maju) mengatakan kelapa sawit hanya bisa mereduksi karbon di tahun 2020 sebesar 17 persen atau di bawah 20 persen,” ujarnya dalam acara pelepasan alumni Magister dan Doktor IPB di Hotel Grand Hyatt, Jakarta.

Gita menambahkan dirinya akan membawa permasalahan ini dalam agenda organisasi perdagangan dunia atau World Trade Organization (WTO) untuk dilakukan pembahasan. Pasalnya, hal ini memberi dampak buruk bagi industri Tanah Air.

“Di WTO saya angkat dan saya nggak peduli ini harus ada pendelegasian. Jika tidak petani sawit kita yang menderita kerugian,” jelasnya.

Gita mengaku sejak tahun lalu dia sudah mendesak lembaga Environmental Protection Agency (EPA) menentukan sikap soal sawit. Tapi organisasi itu berkukuh untuk membahasnya lebih lama, sehingga mendag hanya bisa pasrah.

“Saya maunya Oktober (tahun lalu) kemarin, tapi mereka bilang tunggu dulu, kita masih harus membahasnya,” ujarnya di kantornya.

Gita mengaku sudah mengupayakan segala cara supaya produk olahan sawit, khususnya minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) tak lagi dianggap merusak lingkungan. EPA dalam laporan pada 2011 menyebutkan bahwa industri CPO Indonesia menghasilkan emisi gas lebih dari 20 persen dan ini tidak sesuai dengan komitmen pengurangan emisi gas dunia.

Amerika pula aktor utama yang mendorong banyak negara tidak memasukkan komoditas CPO Indonesia dalam daftar 54 produk yang mendapat prioritas pengurangan tarif masuk 5 persen di forum APEC. Alhasil produk sawit tidak kompetitif dibanding minyak nabati lainnya.

sumber : merdeka.com



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge