0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Bulog Kesulitan Serap Kedelai Lokal

Pedagang kedelai. (Dok.Timlo.net/ Aris Arianto.)

Solo – Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) sejauh ini cukup kesulitan menyerap kedelai lokal dari petani. Pasalnya, harga yang berlaku di tingkat petani mencapai Rp 8300 perkilogram, jauh di atas harga pokok pembelian (HPP) pemerintah sebesar Rp 7000 perkilogram.

Bulog Divisi Regional (Divre) Jawa Tengah sendiri sebenarnya telah melakukan penjajakan ke sejumlah sentra penghasil kedelai seperti Purwodadi dan Wonogiri. Hanya saja, diakui Kepala Bulog setempat, Witono, bukan tidak mungkin penyerapan komoditas tersebut akan menemui kendala.

“Di Wonogiri rencana akhir bulan (September-red) panen, tapi harganya Rp 8300 di atas HPP sebesar Rp 7000. Jadi kalau harga di bawah Rp 7000 Bulog siap untuk membeli kedelai, tapi kalau harga kedelai di atas HPP kami juga nggak bisa melakukan pembelian,” bebernya kepada wartawan, di sela-sela acara Dialog Pendapat Umum tentang Pertanian di Graha Soloraya, Kamis (19/9).

Sementara itu, dengan harga pasar yang relatif tinggi, Kepala Bulog Subdivre III Surakarta, Edhy Rizwan, berharap pihakya mampu menyerap sekira 5 ton hingga 10 ton kedelai petani. Mengingat harga beli yang dipatok pemerintah sebesar Rp 7000 perkilogram untuk kedelai lokal.

“Memang yang jadi masalah kondisi harga. Namun, kami akan tetap berusaha. Kami punya rencana begitu panen akan beli kedelai asalan, baru nanti kami olah,” kata Edhy Rizwan.

Sementara untuk pemasarannya sendiri, nantinya pihak Bulog akan menjual komoditas kedelai lokal ke Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Kopti). Namun, tidak menutup kemungkinan pula institusi akan memasarkannya langsung ke perajin tahu dan tempe.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge