0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

S Haryadi, dari Guru, Salesman Permen hingga Pengusaha Sukses

S Haryadi. (Dok: Timlo.net/Istimewa)

Solo — Sosok S Haryadi dikenal oleh masyarakat Solo sebagai pendiri surat kabar Joglosemar dan juga sebagai Presiden Komisaris PT Nugroho Santoso yang bergerak di bidang percetakan dan penerbitan buku.

Kesuksesan yang diraih S Haryadi tidak datang dalam satu hari. Pria kelahiran Solo, 5 Juli 1954 ini juga sempat mencicipi pahitnya kegagalan dalam hidup sebagai seorang wirausahawan.

Ditemui di Black Canyon Coffee Solo Paragon Mall, Jumat (6/9) malam, Haryadi bercerita mengenai perjalanan panjangnya dalam membangun bisnis di bidang percetakan dan penerbitan. Anak kedua dari lima bersaudara itu sebenarnya ingin menjadi seorang dokter. “Waktu kecil saya ingin menjadi seorang dokter,“ ujarnya.

Tapi sayang cita-cita itu tidak tercapai karena kesulitan biaya. Sang ayah adalah pegawai negeri sipil (PNS) di sebuah  Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) dengan penghasilan apa adanya. Oleh karena itu, semenjak kecil dia ikut dengan paman dan eyangnya untuk meneruskan pendidikannya. Sewaktu dia hendak meneruskan pendidikan ke jenjang SMA, sang paman menolak membiayai.

“Waktu itu saya ingin masuk SMA atau SMK, tapi paman saya tidak mau membiayai kecuali bila saya masuk SPG (Sekolah Pendidikan Guru),” terang Haryadi.

Alhasil, Haryadi pun menempuh pendidikan sebagai seorang guru. Pada tahun 1972 hingga 1975, dia menjadi seorang guru di SD Al Irsyad, Pasar Kliwon, Solo. Sementara pada tahun 1973, terdapat  Inpres (Instruksi Presiden) tentang pendidikan, pembinaan  generasi muda dan kebudayaan nasional di mana pemerintah membangun ribuan gedung SD dan merekrut banyak guru untuk menjadi PNS. Tapi Haryadi justru memutuskan untuk keluar dari profesi sebagai seorang guru.

“Saya tidak tertarik menjadi PNS karena saya tidak mau terbelenggu oleh kondisi pegawai negeri,” ujarnya. Dia menganggap bahwa bila menjadi PNS dia tidak bisa berhenti dengan leluasa dan tidak bisa mengubah kehidupan sosial ekonominya.

Setelah berhenti mengajar, dia menekuni berbagai profesi yang berbeda di antara sebagai salesman permen, salesman mobil, salesman rokok. Dia bahkan pernah mencoba berjualan jok kursi, emping goreng, dan pengepul kain perca. Selama sepuluh tahun, bisnis Haryadi selalu diwarnai dengan kegagalan dan kegagalan.

Hingga pada akhirnya, pada tahun 1987 dia mulai bekerja sebagai seorang salesman untuk sebuah penerbit buku. Saat itu Haryadi baru mulai merasakan bahwa dunia percetakan dan penerbitan adalah bidangnya.

Pada tahun 1994, dia dibantu dengan sang istri dan kedua anaknya mencoba menerbitkan buku LKS sendiri. “Waktu itu, kami masih belum memiliki mesin cetak sendiri. Kedua anak saya yang menata layout buku, lalu dicetak ke penerbit buku lain,” ujarnya.

Bisnis tersebut lambat laun mengalami kemajuan, hingga pada tahun 2003 mereka mampu membeli mesin cetak sendiri dan akhirnya memiliki bisnis percetakan dan penerbitan yang menaungi beberapa penerbit.

Namun bisnisnya tersebut tidak mulus tanpa halangan.  “Hampir setiap semester selalu ada orang yang tidak membayar pesanan buku mereka,” kata Haryadi.

Saking seringnya kasus ini terjadi, akhirnya dia sengaja memasukkan kerugian tersebut dalam perhitungan bisnisnya. Mengalami penipuan bukanlah hal yang asing bagi Haryadi, tapi dia tidak merasa kapok dan tetap optimis.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge