0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Koreografer Danang Pamungkas Padukan Balet, Taichi dan Tari Jawa

Koreografer trenama Solo, Danang Pamungkas (kanan) (dok.timlo.net/achmad khalik)

Sukoharjo — Koreografer kondang Kota Solo, Danang Pamungkas merasa tergugah tatkala menyaksikan benda-benda purbakala di salah satu museum di Austria. Dirinya yang beberapa waktu lalu sempat menampilkan karyanya dalam acara ‘Impulstan Festival’ yang diadakan di negeri itu merasa janggal.

Bagaimana tidak?  Benda purba yang diletakkan di museum tersebut banyak diambil dari Solo maupun Yogya. Saat berada di tempat asalnya, benda-benda purba tersebut mudah dijamah dan kurang terawat. Sementara, setelah masuk ke dalam museum, benda-benda purba tersebut tidak boleh dipegang dan terkurung dalam kaca tembus pandang.

“Karya yang saya tampilkan dalam festival tersebut mengangkat kejanggalan tentang benda purba dan perlakuaannya saat masih berada di tempat awalnya dan setelah masuk museum,” terang Danang kepada wartawan, saat ditemui di Sanggar Pangruwata, Salakan, Kartasura, Sukoharjo, Selasa (18/9) malam.

Karya yang ditampilkan tersebut, lanjut Danang, berupa sebuah tarian perpaduan antara balet, taichi, dan tari tradisional Jawa. Dimana, konsep yang diusungnya tentang benda purbakala tersebut. Disinggung durasi waktu saat membawakan karyanya itu, diungkapkan Danang, lebih dari 3 jam dirinya membawakan karya tari kontemporernya tersebut.

“Sekitar 3 jam saya tampil membawakan karya tersebut,” papar Danang.

Uniknya, tambah Danang, usai mementaskan karyanya itu, banyak terjadi perdebatan tentang karya yang ditampilkannya. Karena, banyak masyarakat Austria yang tidak percaya bahwa benda seberharga dan penuh sejarah tersebut di Kota Solo maupun Yogya diberlakukan kurang sesuai.

“Terjadi perdebatan. Banyak yang tidak percaya, bahwa benda purba seperti yang ada di Austria tersebut memang ada di Indonesia, khususnya Solo dan Yogya. Yang lebih mencengangkan lagi, saat saya bercerita bahwa benda-benda di museum tempat mereka yang diperlakukan khusus tersebut, di Indonesia kurang diperhatikan,” pungkas Danang.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge