0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Mau Diangkat Jadi Dubes di Jerman, Foke Ditolak Rame-rame

Fauzi Bowo dan isteri (dok.merdeka.com)

Timlo.net — Mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo (Foke) dipilih oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Duta Besar Indonesia untuk Jerman. Belum resmi terpilih, Foke sudah mendapatkan banyak penolakan karena dikenal memiliki karakter keras. Foke dinilai tak cocok jika ditugaskan sebagai Dubes RI di Jerman.

Anggota Komisi I DPR, Mardani Ali Sera mengatakan seorang diplomat harus memiliki jiwa yang tenang. Ketika marah dan senang, hal itu tak mudah dibaca hanya dengan melihat raut wajah. Mardani menilai, seorang diplomat yang hebat terdapat pada Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa. Menurut dia, Marty memiliki karakter yang santai dan tenang.

“Secara gesture kita lihat, kalau kita ketemu diplomat karier paling gampang pak Marty-lah, suka atau tidak suka, atau sedang marah enggak ketahuan (raut wajahnya),” jelas Mardani di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (4/9) lalu.

Politikus PKS ini meyakini, dalam berdiplomasi, pembawaan dan karakter yang tenang itu sangat penting. Sehingga karakter tak mudah ditebak dan diterka ketika melakukan diplomasi. “Dalam diplomasi itu penting, jangan sampai ketebak duluan, pak Hasan Wirayuda memang right man and the right place,” terangnya.

Dia berpendapat, seorang Dubes juga harus mampu menjiwai tugas dan tanggung jawabnya sebagai diplomat. “Tapi cari yang lebih mampu menjiwai dan berjiwa diplomasi,” ujarnya.

Hal senada disampaikan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Jerman. Mereka menyuarakan penolakan terhadap usulan pemerintah mengangkat Fauzi Bowo sebagai duta besar RI untuk Jerman. Menurut PPI, Fauzi Bowo atau Foke tidak memenuhi kriteria sebagai dubes.

Dalam pernyataan yang ditandatangai Ketua PPI Hartono Sugih dan Sekjen Wonny NR Utami, Foke disebut sebagai salah satu tokoh nasional, Fauzi Bowo melakukan kampanye hitam dan kampanye terselubung terhadap salah satu pesaingnya dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2012 dengan menggunakan isu-isu SARA.

“Apa yang telah dilakukan Fauzi Bowo jelas bertentangan dengan asas Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi pedoman dasar bangsa Indonesia. Bagaimana mungkin seseorang yang pernah tidak menjunjung tinggi nilai keberagaman, dipilih dan dicalonkan sebagai Duta Besar RI dan menjadi representasi dari Negara Kesatuan Republik Indonesia di kancah internasional?” demikian pernyataan PPI yang diterima merdeka.com, Selasa (17/9) kemarin.

Selain itu, Fauzi Bowo dinilai telah gagal mengemban tugas dan tanggung jawabnya sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2007-2012. Fauzi Bowo juga dinilai gagal memberikan perlindungan dan rasa aman bagi warganya sendiri.

“Berdasarkan penilaian ini, bagaimana mungkin yang bersangkutan bisa memberikan perlindungan dan rasa aman terhadap WNI di negara lain apabila dia sendiri telah gagal memberikan hal itu di negaranya sendiri?” imbuh PPI.

PPI menambahkan, melalui program Jakarta-Berlin Sister City, Fauzi Bowo sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2007-2012, memiliki kesempatan besar untuk menggunakan pengetahuannya mengenai Jerman untuk dapat memaksimalkan hubungan tersebut. Namun selama program ini berlangsung, PPI tidak melihat hasil signifikan yang dapat dimanfaatkan dari hubungan tersebut untuk kemajuan pembangunan di DKI Jakarta.

Sementara itu, anggota Komisi I DPR, Helmi Fauzy belum ‘sreg’ dengan nama-nama calon Duta Besar (Dubes) RI di sejumlah negara yang diajukan pemerintah kepada DPR, termasuk nama Fauzi Bowo. Menurut dia, nama-nama yang dikirimkan belum menunjukkan rekam jejak karir diplomasi yang baik.

“Terus terang saya belum melihat calon dari polisi dan tentara ini punya rekam jejak yang jelas terkait pengalaman dan pemahaman melakukan hubungan internasional,” kata Helmy saat dihubungi, Selasa (17/9).

Walau demikian, Helmy mengakui bahwa memang kedua sosok itu adalah pejabat senior di jajarannya masing-masing. “Barang tentu dengan pengalaman luas begitu, mudah-mudahan cukup untuk jadi dubes,” kata dia.

Terkait dengan rekam jejak para calon dubes dari jalur non-karir Kementerian Luar Negeri itu, Helmy siap menerima masukan dari masyarakat.

“Justru itulah pentingnya masukan dari masyarakat. Masih ada waktu untuk masukan itu dan kami siap menerimanya,” pungkasnya. [war]

Sumber: merdeka.com

 



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge