0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Jual Raskin, Penerima Raskin Tak Terima Jatah selama Setahun

(Ilustrasi) Raskinda. (dok.timlo.net/agung)

Sragen — Pembagian beras warga miskin (Raskin) di Desa Gebang, Kecamatan Masaran, Sragen diduga dikuasai para tengkulak. Ironisnya, para bakul beras itu tidak sebatas membeli Raskin, namun mereka sudah ikut menentukan pendistribusian Raskin di desa tersebut dalam kurun waktu dua tahun terakhir.

Informasi di lapangan menyebutkan, sedikitnya ada empat bakul beras yang ikut bermain dalam proses pembagian Raskin 357 warga Desa Gebang. Modus jual beli raskin itu, di antaranya dengan mengepul seluruh beras dari para penerima Raskin. Kemudian jatah Raskin warga langsung dibayar kontan satu tahun sekaligus.

Seperti yang dialami Warno (50), warga Dukuh Purworejo, Desa Gebang. Menurut dia, jatah Raskin miliknya langsung dibeli sebanyak Rp 445.000 untuk jatah satu tahun.

“Karena sudah dibayar setahun sekaligus, setiap bulan sudah tidak berhak mendapatkan jatah beras lagi. Kartu bukti penerima girik beras juga sudah di tangan bakul,” ujar Warno.

Dikatakan Warno, sebenarnya dirinya berkeinginan juga untuk membeli jatah Raskin untuk dimasak sendiri. Namun, karena setiap jatah beras turun langsung bakul beras keliling membeli, terpaksa dia berikan.

Hal senada dikatakan warga Desa Gebang lainnya, Jumadi (48). Menurut pengakuannya sejak dua tahun terakhir jatah Raskin yang diterima warga diambil oleh pedagang beras. Untuk setiap karung beras 15 kg, dibeli pedagang dengan harga bervariasi antara Rp 55.000 hingga Rp 85.000.

“Karena nilai jualnya sangat menggiurkan, maka banyak warga penerima Raskin yang memilih menjualnya kembali untuk dibelikan beras dengan kualitas yang mungkin lebih baik,” katanya.

Sementara itu Plt Kades Gebang Suharto saat dikonfirmasi mengenai kejadian itu menjelaskan, di desanya memang ada sebagian warga penerima jatah Raskin yang nekat menjual beras tersebut kepada para pedagang beras. Sebenarnya pihak desa telah berulang kali mengingatkan agar para penerima tidak langsung menjual beras tersebut kepada para pedagang. Namun demikian sejumlah warga masih saja nekat.

“Kalau jatah beras itu sudah diambil kemudian dijual ya kita tidak bisa melarangnya,” terang Suharto.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge