0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Hujan Minim, Pasir di Lereng Merapi Langka

Penambang Pasir (Dok.Timlo.net/ Nanin.)

Boyolali — Hujan yang mulai jarang turun di wilayah Lereng Gunung Merapi membuat penambang pasir menjerit. Pasir selama ini menjadi mata pencaharian sehari-hari. Kondisi ini juga mengakibatkan harga pasir menjadi naik.

Seorang pengepul pasir, Suladi, 40, saat ini mencari pasir di kawasan lereng Merapi sangat sulit. Tidak adanya banjir lahar dingin dari Puncak Merapi yang membuat pasir menjadi langka. Kalaupun ada, kualitasnya sangat jelek.

Dijelaskan juga, di sejumlah sungai yang biasanya melimpah pasir, kini sudah langka. Seperti di Kali Apu atau di Kali Juweh. Kalaupun ada pasir, jaraknya antara lokasi penambangan dengan areal parkir mobil sangat jauh. Di lokasi penambangan sebelumnya, persediaan pasir sudah habis.

“Lokasi penambangan sangat jauh, yang nambang kebanyakan kaum wanita, yang laki-laki memilih menjadi buruh petik tembakau, ini mengakibatkan kita kesulitan mencari tukang tambang pasir,” tandas Suladi ditemui di Kali Juweh, Senin (16/9).

Diakui antara penambang laki-laki dengan perempuan hasilnya berbeda. Kalau penambang laki-laki, dalam setengah hari dapat satu mobil pikap. Sedangkan penambang perempuan, satu bak mobil baru bisa penuh setelah dua sampai tiga hari. Kondisi ini membuat harga pasir melonjak. Dari lokasi penambangan, sebelumnya Rp 30 ribu per satu bak pikap L300. Harga ini sudah termasuk ongkos menaikkan pasir ke atas mobil. Namun, kini harga pasir naik menjadi Rp 40 ribu, belum termasuk ongkos tenaga menaikkan pasir ke atas bak mobil.

”Ongkos menaikkan pasir Rp 5 ribu, jadi total harga dari penambangan Rp 45 ribu. Jika nanti penambang mau bongkar sekalian, ongkos bongkarnya Rp 5 ribu. Total modal pasir Rp 50 ribu. Satu bak pasir, saya jual antara Rp 75 hingga Rp 100 ribu, tergantung jaraknya,” tandasnya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge