0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Sumber Informasi Anak: Perpustakaan Dulu, Baru Internet

Aksi Damai Hari Kunjung Perpustakaan 2013 dengan tema Cinta Pepustakaan, Masyarakat Cerdas yang digelar di CFD Jalan Slamet Riyadi, (dok.timlo.net/achmad khalik)

Solo — Perpustakaan memiliki peran penting sebagai sumber informasi bagi anak. Sehingga kehadirannya sangat dibutuhkan untuk menentukan perbendaharaan konsumsi pengetahuan.

Konsultan Kreatif Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia (YPPI) Bambang Haryanto mengemukakan, minat baca anak-anak saat ini sudah bagus namun sayangnya serapan informasi yang mereka dapatkan terkadang tidak sesuai dengan kebutuhan. Pasalnya, kini sumber informasi terutama internet sangat mudah diakses anak-anak, sementara di informasi yang disediakan di internet tidak terfilter berdasarkan usia pengakses. Maka dari itu, perpustakaan memiliki peran penting sebagai filter informasi kepada anak terutama sumber informasi dari buku.

“Perpustakaan satu-satunya sumber informasi yang sesuai kebutuhan anak-anak,” ujar Bambang ketika ditemui wartawan di sela-sela Aksi Damai Hari Kunjung Perpustakaan 2013 dengan tema Cinta Pepustakaan, Masyarakat Cerdas yang digelar di car free day (CFD) Jalan Slamet Riyadi, Solo, Minggu (15/9).

Dijelaskan, dengan berkunjung ke perpustakaan maka anak akan mendapatkan informasi sesuai dengan usia dan kebutuhannya. Sebab, petugas perpustakaan akan memberikan bimbingan dan arahan kepada anak-anak mengenai sumber informasi yang harus mereka baca.

“Informasi (internet) nggak bisa langsung diserap, namun harus ditelaah. Karena itu berkunjung ke perpustakaan bisa menjadi filter untuk menyerap informasi, jadi anak-anak menyerap informasi yang sehat,” tegas Bambang.

Sementara itu, Kepala Seksi (Kasi) Pelayanan Perpustakaan Arpusda Solo, Arif Mutaqin menyampaikan, meskipun internet merupakan bagian dari perpustakaan sebagai sumber informasi namun informasi tersebut harus terfilter sehingga anak-anak terarah dalam menyerap informasi.

“Untuk dukung informasi butuh perjenjangan, buku dulu baru internet. Sehingga nantinya tidak salah ketika anak-anak mengakses (informasi) internet,” jelasnya.

Dalam aksi damai yang melibatkan mahasiswa D3 Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta tersebut, para mahasiswa mengenakan topeng ikon jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, YouTube, dan lainnya. Ada juga mahasiswa yang mengenakan topeng tokoh-tokoh besar seperti Ir Soekarno, Mohammad Hatta, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Fidel Castro, Steve Jobs dan Malala Yousafzai.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge