0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pre Even Solo City Jazz

Ketika Pasar Gede Berubah Jadi Pasar Jazz

Sejumlah musisi jazz saat tampil menghibur pedagang dan pembeli di Pasar Gede, Solo, Sabtu (14/9) (dok.timlo.net/achmad khalik)

Solo —  Unik. Itulah yang terlintas di pikiran, tatkala dua grup musik jazz menghibur para pedagang Pasar Gede, Solo, Sabtu (14/9) siang. Perpaduan alat musik khas jazz seperti bass dan sexophone yang dipadupadankan dengan alat musik tradisional seperti kenong, gender dan gamelan menghasilkan suara musik jazz yang khas dan lain dari biasanya.

Tak hanya itu, pedagang Pasar Gede yang disibukkan kegiatan jual beli pun, sedikit bisa melepaskan penat dengan menikmati sajian musik jazz yang merupakan salah satu Pre Even pagelaran Solo City Jazz (SCJ) 2013.

Penata Artistik SCJ 2013, Heru Mataya mengatakan konsep yang diusung dalam Pre Even kali ini memang sengaja untuk mendekatkan musik Jazz dengan para pedagang pasar. Agar, image musik Jazz yang selama ini identik dengan kalangan atas terkikis.

“Musik merupakan hak semua orang. Termasuk musik jazz ini. Siapapun bisa menikmati musik tersebut. Maka dari itu, kami berinisiatif mengenalkan musik jazz kepada semua kalangan. Tak hanya kalangan elit semata, namun sampai kepada kalangan bawah, seperti yang kita lakukan ini,” terang Heru ditemui Timlo.net di sela acara.

Tak hanya di Pasar Gede saja, lanjut Heru, Pre Even SCJ 2013 tersebut rencananya juga akan diadakan di Pasar Triwindu, nanti malam. Dengan menghadirkan sejumlah musisi jazz, dirinya berharap dapat memasyarakatkan musik Jazz kepada kalangan luas. Sehingga tak terdapat sekat antara penikmat musik Jazz kalangan atas dan kalangan bawah.

“Harapannya agar musik ini bisa diterima oleh semua kalangan,” tegasnya.

Di tempat yang sama, pendiri grup musik Kemlaka, Dwi Priyo Sumarto mengatakan dipilihnya Pasar Gede untuk pentas Pre Even SCJ 2013 mempunyai tantangan tersendiri. Pasalnya, dari penonton ataupun musik yang disajikan sangat berbeda dengan saat pentas dipanggung ataupun tempat-tempat khusus yang lain.

“Pastinya ada sejumlah perubahan dengan musik yang disajikan. Kalau ditempat pentas, kan penonton fokus melihat pertunjukan. Sementara kalau dipasar, kita harus mempunyai usaha ekstra untuk mendapatkan perhatian para pengunjung dan pedagang pasar,” ucap pria yang akrab disapa Priyo tersebut.

Senada, kelompok Jazz Calssica Concerta yang beranggotakan satu keluarga tersebut juga harus menyesuaikan pola pertunjukan. Ketika berada di atas panggung maupun konser bergilir di sejumlah hotel dengan berada di kawasan pasar tradisional. Meski begitu, kelompok band yang dipimpin oleh Joko dan istrinya, Ningrum menilai hal itu merupakan suatu hal yang unik dan menantang. Dimana, tiap personel grup musik Jazz harus menunjukkan performa maksimal untuk meraih perhatian penonton.

“Ya kita tampilkan sejumlah tembang-tembang Jawa seperti Ilir-ilir, Prau Layar dan Jaranan terlebih dahulu. Setelah mereka menikmati lagu-lagu tradisional yang diaransemen kedalam musik Jazz, baru kita masuk kedalam musik aransemen musik Jazz yang lebih serius, seperti Satin Down ataupun Tukish Mars ciptaan Mozart,” tandasnya.

Sementara itu, salah seorang pedagang buah di Pasar Gede, Bu Joko (37) mengaku terhibur dengan pertunjukan musik Jazz yang dihadirkan. Pasalnya, selama ini mereka cenderung tegang dan serius menghadapi keseharian di pasar. Sedangkan kehadiran panggung musik jazz di tengah-tengah pedagang dan pengunjung Pasar Gede mampu menghilangkan penat suasana di pasar tersebut.

“Ya bisa sebagai hiburan, Mas. Lha wong kesehariannya serius terus,” terangnya berseloroh.

 



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge