0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Pasar Ekspor Mebel Belum Cukup Bergairah

Salah satu perusahaan mebel (Dok. Timlo.net/ Sahid)

Solo – Kalangan eksportir Kota Solo, khususnya yang bermain di industri mebel menilai sejauh ini pasar ekspor ke beberapa kawasan seperti Eropa dan Amerika belum cukup bergairah. Hal itu tidak lepas dari pengaruh perekonomian global yang belum sepenuhnya pulih dari krisis.

Sebagaimana diakui Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Solo, Yanti Rukmana, pasar ekspor untuk beberapa negara masih cenderung stagnan. Bahkan, di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar akhir-akhir ini, tak bisa dimanfaatkan eksportir untuk menggenjot ekspor lantaran permintaan cenderung stabil.

“Dengan melemahnya rupiah, market (pasar-red) belum ada pengaruh. Kami hanya dapat keuntungan dari selisih kurs,” ujarnya kepada wartawan, di salah satu rumah makan di kawasan Jl Slamet Riyadi, Kamis (12/9) malam.

Belum membaiknya kinerja ekspor saat ini turut diakui pula oleh salah seorang eksportir mebel, Rani Permatasari. Pemilik CV Nuansa Kayu Bekas tersebut menyatakan, pemasaran produk ke Eropa masih belum seperti yang diharapkan.

Imbas dari krisis ekonomi global, bahkan sempat membuat permintaan produk domestik di beberapa negara Eropa cenderung turun. Meski terjadi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar, namun hal itu tak lantas memengaruhi kinerja ekspor.

“Ekspor tidak terpengaruh oleh pelemahan rupiah. Penjualan cenderung stagnan,” katanya.

Sementara itu berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Solo, sejak Januari hingga Agustus 2013 atau hingga akhir kuartal II nilai ekspor mencapai US$ 25,8 juta. Selain dari mebel, kontribusi utama ekspor dibukukan tekstil dan produk tekstil serta batik.

Kinerja ekspor di 2013 ini sendiri tidak sebagus periode yang sama tahun lalu. Pada Januari hingga Agustus 2012, nilai ekspor mencapai US$ 28,757 juta. Kepala Seksi Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan setempat, Endang Kurnia Maharani, memandang penurunan nilai ekspor terjadi akibat belum pulihnya perekonomian global dari krisis.

Sementara negara tujuan utama ekspor masih bertumpu ke pasar tradisional. Dalam hal ini Amerika dan Eropa seperti Inggris, Italia, Belanda, Perancis dan Jerman.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge