0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Kemarau, Jerami Jadi Barang Mahal Bagi Peternak Sapi

Warga memboncengkan jerami untuk makanan ternak sapi (dok.timlo.net/nanin)

Boyolali — Memasuki musim kemarau, jerami tanaman padi menjadi barang berharga dan punyai nilai jual tinggi. Bila sebelumnya, jerami bekas panen padi ini hanya dibiarkan saja oleh pemiliknya, kini diperjual belikan. Hal ini terjadi karena peternak sapi di wilayah Boyolali Utara beralih ke jerami untuk pakan ternak mereka. Mengingat sulitnya mencari rumput hijau.

Sutarni (50) warga Dusun Wates, Desa Bade, Kecamatan Klego, Boyolali mengaku seringkali kesulitan mencari jerami batang padi ini. Diceritakan, dulu saat musim hujan, jerami dibiarkan begitu saja. Tapi sekarang kondisi berbalik, jerami menjadi barang mahal bagi peternak. Satu ikat jerami harganya mencapai Rp 20 ribu, bahkan bila kemarau panjang, harganya bisa mencapai Rp 50 ribu perikat besar.

”Kalau ada yang panen padi, pasti jadi rebutan, peternak sapi di sini sudah beralih ke jerami, biasanya untuk pakan pakai rumput hijau, tapi sekarang sulit nyarinya,” ungkap Sutarmi, warga Klego, Jumat (13/9).

Dijelaskan, bila tidak ada yang panen, dirinya terpaksa membeli di Pasar Klego, itupun harus berebut dengan peternak sapi lain. Untuk mencukupi kebutuhan makan sapi miliknya itu, setidaknya membutuhkan satu bongkok (ikat) jerami dalam sehari. Untuk mendapatkan jerami, kadang dirinya dan peternak lain harus keliling untuk mencari lahan sawah yang habis panen.

”Tetapi jika tidak ada yang panen padi, terpaksa harus membeli jerami di Pasar Klego. Satu ikat besar harganya Rp 15 sampai Rp 20 ribu. Pada pertengahan bulan puasa lalu harganya Rp 30 ribu. Bahkan pas hari Lebaran kemarin, satu ikat jerami bisa mencapai Rp 50 ribu,” lanjutnya.

Peternak sapi lainnya, Suparjo (60), selain diberi makan jerami, sebenarnya juga ada pakan lain yang bisa diberikan. Seperti daun kacang tanah atau rendeng, daun jagung yang dicacah. Namun harganya mahal, di daerah tersebut jarang ada persediaan pakan jenis tersebut. Kalaupun ada, harus menunggu petani saat panen raya kacang tanah atau jagung.

“Kita cari yang murah dan mudah didapat saja,” imbuh Suparjo.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge