0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

4 CCTV Rusak, Pencurian di Dikpora Boyolali Marak

CCTV di Kantor Dikpora Boyolali rusak sehingga memudahkan aksi pencurian (dok.timlo.net/nanin)

Boyolali — Empat buah CCTV (Closed Circuit Television) di Kantor Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Boyolali yang rusak diduga menjadi penyebab mudahnya aksi pencurian terjadi di lingkup perkantoran yang berada di Jalan Pandanaran atau jalur utama Boyolali-Kartasura. Pasalnya, bila CCTV berfungsi, kemungkinan besar aksi pembobolan mobil Kepala SMP Negeri 3 Teras bisa terpantau.

Rusaknya CCTV Disdikpora Boyolali sudah berlangsung sepekan ini. Empat CCTV terpasang di dua kamera di bagian depan dan dua lainnya di parkiran belakang dan ruangan keuangan. Pemasangan kamera tersembunyi tersebut dilakukan menyusul seringnya kasus pencurian yang terjadi di lingkungan kantor Disdikpora. Setidaknya sebelum kasus mobil Kepala SMPN 3 Teras dibobol, sudah terjadi beberapa kali aksi pencurian. Mulai dari pencurian helm, sepeda motor hingga brangkas di ruang keuangan.

“Lingkungan sini memang rawan, maka kita pasang CCTV dan menempatkan petugas di depan kantor, tapi juga masih kecolongan,” ungkap Sekretaris Disdikpora Boyolali, Addul Rohman, Jumat (13/9).

Sehingga sebagai antisipasi keamanan, selain menempatkan Satpam penjaga, pihak kantor juga memasang kamera CCTV. Bahkan menurut Abdul, pernah satu kasus pencurian helm yang terjadi di Disdikpora sempat tertangkap kamera. Namun sayang, kualitas kamera masih kurang sehingga gambar yang tertangkap kamera tidak terlalu jelas.

“Yang rusak saat ini masih dalam perbaikan,” jelasnya.

Lebih lanjut Abdul menjelaskan, untuk antisipasi keamanan lingkungan kantor pada malam hari sebenarnya sudah cukup memadai. Selain dua orang yang dipasang piket jaga bergantian, biasanya tiap malam kondisi kantor masih terdapat banyak pegawai yang lembur. Setidaknya tiap malam, menurutnya, masih ada 4-6 orang yang mengerjakan tugas lembur.

Terkait seringnya kasus pencurian yang terjadi di lingkungan kantornya, Abdul menduga salah satunya dikarenakan banyaknya masyarakat yang membutuhkan pelayanan, seperti legalisir maupun urusan pendidikan. Tak hanya ratusan, seringkali menurut dia yang datang ke Disdikpora bisa mencapai ribuan orang. Sehingga sulit untuk mendeteksi satu per satu orang yang datang ke kantor.

“Banyak yang datang ke sini, kami tidak bisa mendeteksi satu persatu,” imbuhnya.

Khusus kejadian pemecahan kaca mobil dan pencurian uang serta laptop yang menimpa Agus DS, Kasek SMPN 3 Teras, menurut Abdul yang bersangkutan baru saja dari bank kemudian ke Disdikpora. Diduga, kawanan pencuri sudah menguntit korban sejak dari bank dan baru membobol mobil korban di halaman Disdikpora. Pelaku berhasil membawa kabur laptop dan uang Rp 10 juta milik korban.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge